Bagi penggemar One Piece atau yang dikenal dengan sebutan Nakama, siapa yang tidak kenal dengan Mugiwara? Kru bajak laut yang dipimpin oleh kapten mereka Monkey D. Luffy, sang protagonis utama.
Namun tahukah kamu, di One Piece sendiri sebenarnya Jolly Roger itu tidak hanya Mugiwara.
Dalam dunia One Piece, setiap kru bajak laut memiliki Jolly Rogernya masing-masing dan memiliki makna sendiri.
Seperti Jolly Roger milik Bajak Laut Beast dengan kapten mereka Kaido si Yonko, Jolly Roger milik Bajak Laut Shirohige, Jolly Roger Kurohige, Jolly Roger milik Big Mom dan masih banyak lagi.
Dari sekian banyaknya Jolly Roger mengapa milik Mugiwara yang banyak berkibar di tanah air?
Jolly Roger Adalah Identitas
Jolly Roger atau yang dikenal bendera bajak laut (Kaizoku-ki) adalah bendera tradisional bajak laut Eropa dan Karibia, yang digambarkan sebagai tengkorak di atas tulang paha yang dilintasi pada bidang hitam.
Dalam serial manga dan anime One Piece Jolly Roger merupakan identitas bagi setiap kru bajak laut. Jolly Roger juga biasanya dipakai untuk mengintimidasi lawan serta memberi tanda status mereka sebagai perompak.
Di One Piece sendiri, Jolly Roger didesain oleh setiap kru bajak laut dengan unik dan mencerminkan kepribadian kaptennya.
Seperti Jolly Roger milik Mugiwara kru ini ikonik dengan gambar tengkorak smilenya, tulang yang bersilang di belakang serta topi jerami milik mantan raja bajak laut yang diberikan ke Shanks kemudian diwariskan ke Luffy sang kapten Mugiwara.
Dalam beberapa kasus, Jolly Roger dipakai untuk mengirim pesan, seperti Jolly Roger milik Bajak Laut Krieg yang menampilkan sepasang jam pasir untuk memberi tahu orang-orang bahwa waktu mereka telah habis.
Jolly Roger umumnya ditaruh atau dikibarkan di atas kapal kru bajak laut, tapi lambang Jolly Roger juga sering dikenakan oleh kru bajak laut baik sebagai desain penutup tubuh ataupun tatto. Seperti tato Jolly Roger Shirohige yang ada di punggung Portgas D. Ace.
Jolly Roger Mugiwara
Seperti Jolly Roger pada umumnya yang memiliki keunikan masing-masing, Jolly Roger milik Mugiwara Kru juga memiliki keunikannya. Ikonik dengan Jolly Roger yang sederhana yaitu tengkorak tersenyum dengan tulang bersilang di belakang yang mengenakan topi jerami milik sang kapten, Luffy.
Mugiwara meskipun namanya adalah bajak laut kru, namun bajak laut yang dipimpin oleh Luffy ini tidak terlibat dalam kegiatan stereotip bajak laut itu sendiri.
Mugiwara kru dikenal sebagai bajak laut baik hati, mereka memiliki nilai moral yang kuat dan sering melindungi masyarakat yang lemah dan tertindas.
Namun, tampaknya mereka dianggap berbahaya bagi pemerintah dunia dan masyarakat umum yang tidak mengenal mereka, bahkan mereka menjadi buronan hingga diberi bounty yang bernilai tinggi hanya karena mereka menyebut dirinya bajak laut.
Mengapa Jolly Roger Turut Berkibar di Tanah Air?
Bagi Nakama, Jolly Roger Mugiwara bukan sekadar lambang bajak laut, tetapi simbol mengenai kebebasan, solidaritas, perlawanan terhadap ketidakadilan, serta keberanian untuk mengejar impian tanpa batas.
Seperti karakter utamanya Luffy serta teman-temannya yang suka berjuang melawan ketidakadilan, penindasan, korupsi, nepotisme, manipulasi sejarah dan sebagainya. Topi jerami yang dipakai Luffy merupakan warisan mimpi, bukan senjata intimidasi.
Karena itulah, banyak penggemar merasa lebih relate secara emosional dengan Jolly Roger ini.
Turut berkibarnya Jolly Roger di tanah air ini dinilai masyarakat terutama di kalangan anak muda gen z sebagai bentuk ekspresi masyarakat terhadap situasi sosial di Indonesia saat ini terutama kepada pemerintah sebagai penyelenggara negara.
Fenomena berkibarnya bendera Mugiwara One Piece di Indonesia, menjadi media simbolis untuk menyuarakan rasa frustrasi, kritik, sekaligus harapan akan perubahan.
Pengibaran Jolly Roger Mugiwara bukan bentuk perlawanan destruktif, melainkan simbol bahwa mimpi, keadilan, dan kebebasan harus terus diperjuangkan. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesadaran, solidaritas, serta kreativitas.
Jolly Roger Berkibar Jelang 17 Agustus
Jolly Roger Mugiwara yang berkibar jelang 17 Agustus bukan untuk mengganti merah putih atau merendahkan negara, namun menjadi reminder untuk semua bahwa merdeka itu bukan hanya di masa lalu, merdeka tidak hanya bebas dari penjajahan namun, merdeka yang yang sesungguhnya adalah bagaimana tetap terus mempertahankan kemerdekaan, memperjuangkan hak sebagaimana mestinya, serta harapan untuk tanah air semakin baik.
Penulis: Ayu Andayani Saputri
Editor : Bahana.