RADAR MALIOBORO - Jaadugar: A Witch in Mongolia, anime yang tayang pada musim panas 2026 ini mencuri perhatian penggemar global karena latarnya.
Anime ini mengambil latar Islam abad pertengahan lewat tokoh utama muslim yang digambarkan lebih menghormati konteks sejarah dan budayanya.
Sesuatu yang jarang disentuh oleh medium anime.
Anime ini merupakan adaptasi dari sebuah manga berjudul A Witch’s Life ini Mongol (Tenmaku no Jadugaru) karya Tomato Soup, digarap studio Science SARU dengan Naoko Yamada sebagai chief director dan Abel Gonora sebagai sutradaranya.
Berlatar kota Tus, Persia, abad ke 13, cerita mengikuti Sitara sebagai gadis yang dijual sebagai budak ke keluarga cendekiawan muslim dan mulai belajar ilmu sastra dan filsafat Islam.
Namun hidupnya berubah drastis ketika Mongol menyerbu Persia, ia dibawa paksa ke wilayah kekaisaran Mongol dan berganti nama menjadi Fatima.
Perbedaan anime ini dari anime lain adalah identitas tokohnya. Keislaman Sitara/Fatima bukan sekadar latar dekoratif, sangat menyatu dengan perjalanan karakternya.
Membuat sebagian penonton menyebutnya sebagai representasi muslim yang lebih manusiawi apabila dibandingkan dengan pola umum karakter muslim yang menjadi tokoh pendukung semata.
Hingga saat ini respons dominan positif.
Namun sebagian penonton berharap akurasi sejarahnya tetap konsisten hingga akhir penayangan.
Manga aslinya disebut pernah menjuarai kategori pembaca perempuan di Kono Manga ga Sugoi! 2023, masuk dalam nominasi Manga Taisho, dan memenangkan Japan Cartoonists Association Awards 2026.
Apakah Anime ini bisa menjaga kedalaman riset dan konsisten dalam menjaga akurasi sejarahnya hingga episode terakhir?