Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Dari Rojali hingga Rosali: Mal Kini Jadi Tempat Healing Ekonomi

Meitika Candra Lantiva • Senin, 4 Agustus 2025 | 17:48 WIB
Ilustrasi orang belanja.
Ilustrasi orang belanja.

RADAR MALIOBORO - Di balik ramainya pusat-pusat perbelanjaan, terselip fenomena baru yang menarik perhatian.

Sejumlah pengunjung datang ke mal secara berkelompok tanpa melakukan transaksi.

Mereka hanya berjalan-jalan, bertanya harga, melihat-lihat produk, hingga sekadar berswafoto atau melepas penat.

Fenomena ini secara jenaka disebut netizen dengan beragam istilah: Rojali (Rombongan Jarang Beli), Rohana (Rombongan Hanya Nanya), Rohalus (Rombongan Hanya Elus-Elus), Rocega (Rombongan Cek Harga), Rotasi (Rombongan Tanpa Transaksi), Romusa (Rombongan Muka Susah), Rosali (Rombongan Suka Selfie), dan Rocuta (Rombongan Cuci Mata).

Istilah-istilah ini ramai diperbincangkan di media sosial sebagai cerminan dari situasi ekonomi yang dihadapi sebagian masyarakat urban saat ini.

Anggota Komisi XI DPR RI, Charles Meikyansah, menyayangkan kondisi ini.

Fenomena ini mengindikasi lemahnya daya beli masyarakat.

Ia menilai perlu adanya langkah nyata dari pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik.

“Fenomena ini menggambarkan bagaimana masyarakat saat ini cenderung menahan konsumsi, sebagai respons atas stagnasi pendapatan dan beban fiskal yang dinilai masih cukup berat,” ujar Charles, Jumat (1/8/2025), seperti dilansir JawaPos.com.

Baca Juga: Agrosolution Pupuk Kaltim Dongkrak Hasil Panen Jadi 8,5 Ton per Hektare di Jombang

Pihak pengelola pusat perbelanjaan tidak mempermasalahkan kehadiran rombongan pengunjung tanpa transaksi.

Fenomena tersebut justru dipandang sebagai bagian dari fungsi sosial mal yang kini berkembang.

Tidak hanya sebagai tempat berbelanja, melainkan juga sebagai ruang publik dan rekreasi.

Selain itu, mal juga menjadi semacam pelarian ringan bagi masyarakat di tengah tekanan finansial.

Tak sedikit warga yang mengakui bahwa berkunjung ke mal merupakan bentuk hiburan murah meriah.

Dengan kenyamanan, keamanan, dan tanpa biaya masuk, mal menjadi destinasi favorit masyarakat perkotaan untuk melepas penat.

Fenomena ini mencerminkan terjadinya pergeseran gaya hidup masyarakat urban pascapandemi.

Di tengah kenaikan harga barang konsumsi dan tekanan ekonomi yang terus membayangi, kehadiran kelompok pengunjung tanpa transaksi menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan kini memiliki peran yang lebih luas: sebagai ruang sosial, psikologis, sekaligus emosional bagi warga.

Meskipun belum tentu berdampak signifikan terhadap omzet penjualan, keberadaan kelompok seperti Rojali dan Rocuta turut membentuk ekosistem baru di ruang komersial.

Mal tidak lagi semata-mata menjadi tempat untuk berbelanja, tetapi juga menjadi ruang jeda dari hiruk-pikuk dan tekanan kehidupan sehari-hari. (Jihan Pertiwi)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#ekonomi #healing #fenomena #mal #Rosalia #rojali