Yogyakarta – Harga berbagai jenis plastik di pasaran Jogja dan sekitarnya mengalami kenaikan tajam sejak awal April 2026.
Pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai merasakan beban berat akibat lonjakan biaya kemasan ini.
Menurut informasi yang beredar luas di media sosial dari akun lokal Merapi Uncover, kenaikan harga plastik disebabkan oleh meningkatnya biaya bahan baku impor dari luar negeri.
Kondisi ini selaras dengan laporan pedagang di wilayah Sleman, Gunungkidul, dan Kebumen yang merasakan hal serupa.
Baca Juga: Rudal Iran Hantam Bangunan Hunian di Haifa, Israel Rusak Parah dan Korban Jiwa Dikhawatirkan
Berikut rincian harga plastik terbaru per April 2026 dibandingkan sebelumnya:Plastik Kresek: Rp15.000 – Rp17.900 per pak (sebelumnya Rp10.000)
Plastik PP Bening (per kg): Rp68.900
Plastik PE Tebal: Rp22.800 – Rp39.800 per pak
Plastik Roll (100 meter): Rp14.500 – Rp112.110 (tergantung ukuran)
Plastik Klip: Mulai dari Rp5.500
Harga ini dapat berbeda-beda antar toko dan wilayah di DIY, tergantung stok dan supplier masing-masing.
Pedagang diimbau untuk selalu mengecek harga terkini sebelum membeli.
Lonjakan harga ini bukan hanya fenomena lokal.
Berbagai sumber menyebut konflik geopolitik di Timur Tengah (melibatkan Iran, AS, dan Israel) sebagai pemicu utama.
Gangguan pasokan bahan baku seperti nafta (bahan dasar petrokimia) dari kawasan tersebut membuat biaya impor melonjak.
Indonesia masih bergantung impor sekitar 60% bahan baku plastik.
Selain itu, faktor lain seperti pelemahan rupiah dan kenaikan ongkos logistik turut memperparah situasi.
Kenaikan mulai terasa sejak akhir Ramadan dan pasca-Lebaran 2026, bahkan sempat berubah dalam hitungan jam di beberapa pasar grosir.
Di Jogja sendiri, sudah mencatat kenaikan hingga 50-70% di Gunungkidul dan Kebumen, yang membuat pedagang panik dan UMKM kesulitan mempertahankan margin keuntungan.
Kenaikan harga plastik langsung memukul pelaku usaha kuliner, pedagang pasar, dan warung kecil yang bergantung pada kresek serta kemasan plastik untuk membungkus dagangan.
Beberapa pedagang melaporkan omzet menurun karena mereka enggan menaikkan harga jual agar tidak kehilangan pelanggan.
Badan Pangan Nasional bahkan menyarankan pelaku usaha mempertimbangkan alternatif kemasan non-plastik untuk mengurangi ketergantungan.
Sementara itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan sedang mencari sumber impor baru dari negara lain seperti India, Afrika, atau Amerika Serikat guna menstabilkan pasokan.
Harga plastik diperkirakan masih fluktuatif dalam waktu dekat. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin