RADAR MALIOBORO - Setelah 78 tahun beroperasi, produsen peralatan rumah tangga ikonik, Tupperware, menghadapi krisis keuangan serius dan tengah mempertimbangkan untuk mengajukan pailit.
Perusahaan ini, yang dikenal dengan metode penjualan langsung ke konsumen, mengalami penurunan penjualan drastis dalam beberapa tahun terakhir meskipun telah mencoba strategi baru melalui toko ritel dan platform online.
Dengan utang mencapai US$812 juta (sekitar Rp 12,4 triliun), Tupperware telah mengajukan perlindungan kebangkrutan di Delaware, AS.
Selain itu, tekanan dari biaya tenaga kerja, pengiriman, dan bahan baku pascapandemi memperburuk situasi keuangan perusahaan.
Para kreditur bahkan berupaya menyita aset Tupperware, termasuk kekayaan intelektualnya, seperti merek yang terkenal.
Meskipun menghadapi masalah besar, Tupperware berencana melanjutkan operasinya dan mencari investor baru dalam waktu 30 hari.
Aset perusahaan diperkirakan bernilai antara US$500 juta hingga US$1 miliar, sementara kewajibannya mencapai US$1 miliar hingga US$10 miliar.
Tupperware pernah mencapai puncak popularitas pada 1950-an di AS, ketika wadah-wadah ini menjadi simbol pemberdayaan wanita pasca perang.
Namun, kondisi keuangan yang semakin memburuk membuat masa depan perusahaan menjadi tidak pasti. (Dimas Dwi Prihatmoko)
Editor : Meitika Candra Lantiva