JOGJA - Gerai Batik Putra Boko yang berlokasi di Jalan Prambanan-Piyungan tepatnya di Jobohan, Bokoharjo, Prambanan, Sleman resmi dibuka, Senin (1/12).
Mengusung tag line Semua Bisa Pakai Batik, gerai tersebut diharapkan bisa mendongkrak ekonomi lokal melalui karya-karya bernilai budaya sekitar.
"Kami ingin mengangkat potensi wisata daerah, terutama di Bokoharjo karena almarhum ayah saya berasal dari daerah sini," ujar Founder dan CEO Batik Putra Boko, Anis Suci Fajarwati saat ditemui di acara Grand Opening Batik Putra Boko, Senin (1/12).
Gedung baru itu memiliki luas sekitar 1.000 meter persegi. Total ada tiga lantai lengkap dengan tangga yang aestetik beserta lift untuk memudahkan pengunjunga.
Pada lantai satu, rak tempat display dipenuhi oleh produk makananan atau camilan oleh-oleh. Kemudain lantai dua dan tiga diisi oleh berbagai produk fashion batik.
"Semoga keberuntungan saya di sini, sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan masyarakat sekitar sehingga menjadi pionir untuk destinasi wisata yang lain," bebernya.
Batik Putra Boko juga meluncurkan produk otentik yang berbeda dengan batik-batik merk lain. Ornamen Candi Boko yang ditorehkan melalui cap batik menjadi motif spesial yang hanya dimiliki brand tersebut.
"Karena memang lokasinya berdekatan. Segi UMKM sendiri dari penjahitnya, pegawainya dan SDM-nya, itu kami mengutamakan yang daerah terdekat," jelasnya.
Kurang lebih ada 50 karyawan yang bekerja di gerai tersebut. Gerai Batik Putra Boko merupakan gerai ke lima di bawah manajemen PT Yudhistira Mahadana Sampurna.
"Toko lain kami ada di Taman Siswa, Jalan Wonosari Ketandan, Banguntapan," bebernya.
Anis, sapaan akrabnya, memulai bisnis grosir batik pada tahun 2015. Selama 15 tahun ini, ia mengembangkan usaha dengan nama Grosir Batik Yudhistira.
"Sebagian batik bikin sendiri, tapi sebagian kerja sama karena belum busa memenuhi banyaknya permintaan pasar," ucapnya.
Produk batik yang dijual terdiri dari beragam motif mulai dari Jogja, Solo, Pekalongan, Cirebon, Wonogiri, Lasem dan sebagainya. Namun, koleksi yang paling banyak merupakan motif Jogja.
"Paling spesial ada batik cap motif Candi Boko, perdana kami produksi dengan lima warna," ujarnya.
Manajer Sales Marketing Sungkowo Istiningwardoyo menambahkan, Grand Opening sengaja dilakukan sebelum momen libur Natal dan Tahun Baru. Ia menargetkan pengunjung wisatawan luar daerah yang biasanya meningkat ketika Nataru.
"Melalui sinergitas antar pelaku wisata, mulai travel agent, ada tour leader, tour guide, komunitas-komunitas wisata. Strategi yang utamanya disitu," ujarnya.
Gerai tersebut diharapkan bisa melebarkan sayap hingga wilayah Timur DIY. Sebab, Jalan Prambanan-Piyungan diproyeksijan sebagai jalur wisata dan dekat dnegan destinasi pendukung. (oso)
Editor : Bahana.