Saham Nvidia Corporation (NASDAQ: NVDA) mengalami koreksi cukup dalam setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada 2026. Meski demikian, sejumlah analis Wall Street menilai pelemahan tersebut justru membuka peluang investasi yang lebih menarik bagi investor yang ingin masuk ke sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Hingga penutupan perdagangan terakhir, saham Nvidia berada di level US$200,75, atau sekitar 15 persen di bawah rekor tertingginya di US$236,54. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), saham perusahaan masih membukukan kenaikan sekitar 5,75 persen, sementara dalam satu tahun terakhir menguat lebih dari 15 persen.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar US$4,86 triliun, Nvidia tetap menjadi perusahaan semikonduktor terbesar di dunia dan masih mendominasi pasar GPU AI dengan pangsa lebih dari 80 persen.
Mayoritas Analis Masih Merekomendasikan Beli
Meski harga saham terkoreksi dari puncaknya, sentimen analis terhadap Nvidia masih sangat positif. Dalam sejumlah pembaruan riset terbaru, seluruh rekomendasi dari lembaga keuangan besar masih berada pada kategori Buy, Outperform, atau Overweight.
Beberapa target harga yang diberikan analis antara lain:
-
Cantor Fitzgerald: US$240
-
BofA Securities: US$235
Baca Juga: Alibaba Luncurkan AI Qwen 3.8-MAX, Klaim Lebih Cerdas dan Murah, Saham Langsung Melonjak 6%
-
KeyBanc: US$230
-
Evercore ISI: US$225
-
Wells Fargo: US$220
-
J.P. Morgan: US$215
-
Citi Research: US$210
-
UBS Securities: US$205
-
Barclays: US$200
Posisi harga Nvidia saat ini berada di kisaran bawah target para analis tersebut. Kondisi ini mengindikasikan bahwa valuasi saham dinilai belum terlalu mahal dibandingkan ekspektasi pasar.
Fundamental Nvidia Masih Sangat Kuat
Optimisme terhadap Nvidia tidak hanya berasal dari prospek industri AI, tetapi juga didukung kinerja keuangan yang tetap impresif.
Dalam 12 bulan terakhir, perusahaan mencatat:
-
Pertumbuhan pendapatan mencapai 71,55 persen.
-
Margin laba kotor sekitar 69,85 persen, termasuk salah satu yang tertinggi di industri perangkat keras.
-
Current ratio sebesar 4,21, menunjukkan likuiditas perusahaan berada pada level yang sangat sehat.
Selain itu, sejumlah analis menilai rasio Price to Earnings (P/E) Nvidia masih relatif menarik jika dibandingkan dengan potensi pertumbuhan laba dalam beberapa tahun ke depan. Pendekatan ini dikenal melalui indikator PEG Ratio, yang banyak digunakan untuk menilai saham bertumbuh.
Di sisi lain, prospek industri AI juga masih sangat besar. Sejumlah proyeksi memperkirakan investasi global untuk infrastruktur AI dapat mencapai US$3–4 triliun per tahun pada 2030.
Sebagai pemasok utama chip AI serta pemilik ekosistem perangkat lunak CUDA, Nvidia dinilai berada pada posisi strategis untuk menikmati pertumbuhan tersebut.
Risiko Tetap Perlu Diwaspadai
Meski prospeknya menjanjikan, sejumlah risiko masih membayangi saham Nvidia.
Valuasi perusahaan masih tergolong tinggi berdasarkan beberapa indikator seperti Price to Book (P/B), Revenue Multiple, maupun EBITDA Multiple. Jika belanja AI global melambat, saham Nvidia berpotensi mengalami tekanan melalui penurunan valuasi.
Baca Juga: Double Winner”, Abimanyu Melesat Kibarkan Merah Putih Dua Kali di Thailand
Persaingan juga semakin ketat. Raksasa teknologi seperti Google, Amazon, dan Meta terus mengembangkan chip AI mereka sendiri guna mengurangi ketergantungan terhadap Nvidia.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga menjadi faktor penting. Akses Nvidia ke pasar China masih bergantung pada kebijakan ekspor Amerika Serikat. Walaupun izin ekspor chip H20 telah tersedia, hingga kini belum terdapat pesanan besar yang terealisasi.
Saham Nvidia juga dikenal memiliki volatilitas tinggi dengan beta sekitar 2,12, sehingga pergerakannya cenderung lebih agresif dibandingkan indeks pasar secara keseluruhan.
Masih Menarik untuk Investor Jangka Panjang?
Dengan harga yang berada sekitar 15 persen di bawah level tertinggi sepanjang masa dan masih di bawah mayoritas target analis Wall Street, Nvidia dinilai tetap menawarkan prospek menarik bagi investor yang percaya pada pertumbuhan industri AI dalam jangka panjang.
Namun, saham ini bukanlah pilihan murah dalam pengertian valuasi tradisional. Nvidia masih merupakan saham pertumbuhan (growth stock) yang memiliki potensi keuntungan besar sekaligus risiko volatilitas tinggi.
Selama investasi global di sektor AI terus meningkat dan Nvidia mampu mempertahankan dominasinya di pasar GPU, prospek jangka panjang perusahaan diperkirakan tetap positif. Sebaliknya, perlambatan belanja AI atau meningkatnya tekanan kompetisi dapat menjadi tantangan yang perlu diperhatikan investor.
Editor : Bahana.