LIVERPOOL – Era kepemilikan Fenway Sports Group (FSG) di Liverpool mulai memasuki babak baru. Setelah sekitar 16 tahun mengendalikan klub, FSG kini mengurangi porsi kepemilikannya melalui penjualan saham signifikan kepada konsorsium investor yang berisi sejumlah miliarder.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan betapa besar keuntungan yang berhasil dikantongi FSG sejak mengambil alih Liverpool pada 2010.
Ketika FSG membeli Liverpool, nilai transaksi berada di kisaran £300 juta. Kini, valuasi klub disebut telah melonjak hingga sekitar US$8 miliar atau £5,9 miliar.
Dengan demikian, peningkatan nilai aset Liverpool menjadi salah satu kisah investasi paling sukses dalam industri olahraga.
Dari Klub £300 Juta Menjadi Aset Miliaran Dolar
Baca Juga: Iran Bantah Tuduhan UEA soal Peluncuran Rudal Balistik Karena Berpotensi Merusak Keamanan Regional
FSG mengambil alih Liverpool pada Oktober 2010 setelah klub berada dalam kondisi sulit di bawah kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett.
Kehadiran FSG ketika itu dipandang sebagai penyelamat. Mereka membantu Liverpool keluar dari ancaman krisis finansial dan kemudian membangun klub dengan model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Salah satu karakteristik utama kepemilikan FSG adalah kebijakan untuk tidak secara rutin mengambil keuntungan operasional klub. Pendapatan Liverpool sebagian besar dikembalikan untuk mengembangkan bisnis dan kekuatan tim.
Investasi dilakukan pada berbagai sektor, termasuk stadion, pusat latihan, komersial, teknologi, serta pengembangan skuad.
Strategi tersebut pada akhirnya membuat nilai Liverpool terus meningkat.
Strategi Moneyball Membantu Liverpool Bangkit
FSG membawa pendekatan yang sebelumnya mereka gunakan di Boston Red Sox ke Liverpool, terutama dalam pemanfaatan data dan analisis untuk mengambil keputusan olahraga.
Konsep yang populer dengan istilah Moneyball tersebut membantu klub mencari cara mendapatkan keunggulan kompetitif tanpa harus selalu mengeluarkan dana terbesar.
Pendekatan berbasis data kemudian berjalan beriringan dengan keputusan penting di sektor olahraga, termasuk perekrutan Jurgen Klopp.
Di bawah Klopp, Liverpool kembali menjadi salah satu kekuatan utama Inggris dan Eropa. Klub mengakhiri penantian panjang untuk meraih gelar Liga Inggris sekaligus mengoleksi sejumlah trofi lainnya.
Kesuksesan di lapangan tersebut ikut meningkatkan nilai komersial Liverpool.
Investasi Stadion Ikut Dongkrak Nilai Klub
Pertumbuhan Liverpool tidak hanya berasal dari prestasi olahraga.
Baca Juga: Komisi A DPRD Kota Jogja Ajak Pelajar Awasi Kinerja Legislatif Lewat Program Parlemen Pelajar
FSG juga melakukan investasi besar terhadap aset fisik klub, termasuk pengembangan Anfield dan pusat latihan.
Pengembangan infrastruktur tersebut meningkatkan kapasitas sekaligus nilai komersial klub.
Namun, perjalanan FSG tidak sepenuhnya mulus. Sejumlah kebijakan seperti kenaikan harga tiket, keterlibatan dalam proyek European Super League, hingga persoalan merek dagang pernah mendapat kritik keras dari kelompok suporter.
Dalam beberapa kasus, tekanan dari penggemar membuat FSG harus mengevaluasi dan mengubah keputusan mereka.
Meski demikian, secara finansial strategi tersebut berhasil meningkatkan nilai Liverpool secara signifikan.
Konsorsium Miliarder Ambil 38 Persen Saham
Kini, FSG menjual sekitar 38 persen saham Liverpool kepada 1892 Holdings dengan nilai lebih dari £1,5 miliar.
Konsorsium tersebut melibatkan sejumlah investor, termasuk Amit Bhatia, Eduardo Saverin, Elaine Saverin, dan Jeff Bezos.
Tidak ada perubahan langsung terhadap operasional harian Liverpool. FSG masih menjadi pihak yang mengendalikan klub.
Bhatia akan menjabat sebagai wakil ketua Liverpool, sementara Elaine Saverin dan Bryan Baum juga masuk ke jajaran direksi klub.
Baca Juga: Viral, Sekelompok Orang Selawatan di Gerbong MRT, Soal Kenyamanan dan Etika Jadi Perbincangan Publik
Jeff Bezos disebut sebagai investor utama dalam konsorsium tersebut, tetapi tidak mendapatkan posisi di jajaran dewan.
Masuknya investor baru juga membuka kemungkinan perubahan lebih besar pada masa mendatang. CNBC melaporkan terdapat opsi bagi konsorsium tersebut untuk meningkatkan kepemilikannya hingga menjadi pemegang saham mayoritas dalam satu tahun ke depan.
Babak Baru Liverpool di Era Investor Miliarder
Masuknya nama-nama besar dari dunia bisnis menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan Liverpool.
Di satu sisi, kekuatan finansial investor baru dapat membantu klub membuka pasar dan sumber pendapatan baru. Modal serta jaringan bisnis mereka berpotensi memperkuat posisi Liverpool dalam persaingan global.
Namun di sisi lain, tantangannya adalah menjaga identitas Liverpool sebagai institusi olahraga yang memiliki hubungan kuat dengan kota dan suporternya.
FSG sendiri bukan tanpa kesalahan dalam membangun hubungan dengan pendukung. Namun, mereka beberapa kali bersedia melakukan kompromi setelah mendapatkan tekanan dari kelompok suporter.
Amit Bhatia memiliki reputasi cukup dekat dengan pendukung selama menjadi salah satu pemilik minoritas Queens Park Rangers. Sikap tersebut diharapkan dapat menjadi penyeimbang dalam kepemilikan baru Liverpool.
Pada akhirnya, perjalanan FSG di Liverpool memperlihatkan bahwa keuntungan terbesar dalam bisnis sepak bola tidak selalu berasal dari laba tahunan. Nilai utama justru terletak pada peningkatan harga aset klub.
Baca Juga: Kenapa Saku Pakaian Wanita Sering Tak Fungsional? Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya
Liverpool yang dibeli FSG seharga sekitar £300 juta kini memiliki valuasi miliaran dolar. Penjualan saham minoritas pun sudah memberikan keuntungan besar bagi kelompok pemilik asal Amerika Serikat tersebut.
Bagi Liverpool, masuknya konsorsium baru menjadi awal dari babak berikutnya. Bagi FSG, perjalanan selama lebih dari satu dekade menunjukkan bagaimana strategi membangun klub secara bertahap akhirnya menghasilkan keuntungan investasi yang sangat besar.
Sumber: thisisanfield
Editor : Bahana.