Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tanggal Tua Uang Saku Habis, Terpaksa Jual Baju Bekas di Pasar Beringharjo, Ehh.. Ternyata Pakaian Dalam Lupa Belum Dilepas

Din Miftahudin • Rabu, 29 November 2023 | 04:44 WIB

 

 

Salah satu sudut lapak- lapak di Lantai 2 Pasar Beringharjo sisi timur yang menjual dan membeli pakaian-pakaian bekas
Salah satu sudut lapak- lapak di Lantai 2 Pasar Beringharjo sisi timur yang menjual dan membeli pakaian-pakaian bekas

Pasar Beringharjo memang komplet. Semua kebutuhan bisa dicari di sini. Salah satunya urusan pakaian. Mau batik atau pakaian tradisional ada semua. Belum lagi aksesorisnya.

Jika menginginkan berburu pakaian bermerek di thrift shop di pasar ini juga banyak tersedia. Bagi yang berkantong tipis, pakaian bekas pun bisa dicari di sini. Lokasinya di lantai 2 sisi timur.

Tempat ini ternyata juga menjadi “solusi” bagi mereka yang kehabisan uang di tanggal tua. Layak disimak cerita mantan mahasiswa sebuah PTN di Jogjakarta ini. Suatu saat dia yang kini sukses sebagai bisnisman ini bernostalgia ke Jogja. Kenangannya menjual baju di Pasar Beringharjo kembali teringat.

Sembari makan Soto Pak Muh yang berada di lantai 1 dia mengisahkan kenangannya puluhan tahun silam.”Kisahnya ketika tanggal tua seperti sekarang ini,” ujarnya, Minggu (26/11).

Sebagai mahasiswa yang berasal bukan dari keluarga berada, uang saku habis di akhir bulan bukan perkara baru. Maklum, kiriman dari orangtuanya juga tidak sebesar teman-teman satu kost atau teman di kampus. Jadi, habis sebelum akhir bulan sering dialami.

Tapi, suatu ketika dia benar-benar merasa bingung. Karena uang saku benar-benar habis. Padahal dia butuh untuk makan yang utama. Kiriman dari orangtua tentu masih menunggu beberapa hari ke depan, karena baru diterimanya di awal bulan.”Mau ngutang teman juga banyak yang nasibnya sama,’’ ujarnya.

 

 

penjal pakaian bekas di Pasar Beringharjo
penjal pakaian bekas di Pasar Beringharjo

Di tengah- tengah kekalutannya itu, dia membongkar isi lemari. Dalam benaknya siapa tahu ada uang yang terselip di antara tumpukan baju. Atau di dalam saku celana. Dan tarnyata memang benar-benar tidak ada. Yang ada hanya baju-baju. Sebagian baju pun ternyata sudah usang dan jarang dipakai.

Dia lantas berpikir, bagamaiana jika pakaian-pakaian bekas ini dijual saja. Selain memenuhi lemari, bisa mendapatkan uang. Lalu dia bertanya ke teman-temannya, di mana bisa menjualnya.”Ada yang ngasih tahu di Pasar Beringharjo,” tambahnya.

Keesokan harinya, dengan membawa tas ransel, pakaian-pakaian yang sudah jarang dipakai dia bawa ke Pasar Beringharjo. Sampai di pasar terbesar di Jogjakarta itu dia sempat bingung dan ragu-ragu. Bagaimana cara menawarkannya.”Tiba-tiba ada ibu-ibu yang menghampiri saya. Mau jual apa? Baju bekas?” jelas pria berbadan subur ini.

“Gak usah malu-malu. Kalau malu agak masuk ke sini,” ujarnya menirukan pedagang baju bekas itu. Akhirnya, semua baju dan celana jins di dalam ransel dikeluarkan dan ditaksir. Puluhan ribu akhirnya dia kantongi. Dia tak ingat berapa banyak baju dan celana yang dia jual.

Selesai transaksi dia pun berlalu. Namun, belum sampai 10 meter dari tempat transaksi, ibu pedagang baju meneriaki dan memanggilnya.”Mass…..sini sebentar. Balik sini,” ujarnya menirukan.

Dengan penasaran dan penuh tanda tanya dia kembali menghampiri si ibu tadi. Menanyakan apa yang belum beres.”Ini pakaian dalamnya dibawa pulang saja. Tadi nyelip di dalam celana,” kata si ibu disambut tawa bersama para pedagang di sekitarnya.

Ya, keberadaan para pedagang ini sampai sekarang masih eksis. Deretan pedagang masih menjajakan pakaian bekas dan membeli dari warga yang menjualnya. Selain di lapak-lapak ada juga yang hanya menggelar dagangannya di tangga.

Salah satunya Ibu Rukini.  Dia penjual pakaian bekas yang biasa mangkal bersama rekan-rekannya yang kebanyakan sudah uzur. Sudah puluhan tahun ia menjajakan pakaian bekas. Memang harganya relatif murah-murah. Namun, tergantung juga kondisinya. Ada yang dijual Rp 7.000, Rp 10.000, per potong.

Pakaian-pakaian ini diperoleh dari siapa saja. Dia membelinya bijian antara Rp 2.000, Rp 3.000 atau lebih. Tergantung kondisinya. Kalau agak bagus lebih mahal sedikit. Baju, celana, kaus, jaket semua bisa dia beli.”Kadang ada yang menjual cuma beberapa. Tapi ada juga yang menjual dalam jumlah banyak. Satu karung,” tambahnya.

Selain dipajang di lapak dan berharap ada pembeli, Rukini menyebut juga mengirim pakaian-pakaian bekas ini untuk dijual lagi di daerah lain. Salah satu kota yang kerap meminta kiriman dari dia adalah Kebumen. Di sana dia memiliki sejumlah pelanggan untuk dijual lagi.

Budianto, seorang warga yang mengaku asli Bantul sengaja datang ke lapak pakaian bekas ini untuk mencari baju layak pakai. Dan tentu saja harganya murah. Baginya, lantaran penghasilannya sebagai buruh tani tidak seberapa, lepak-lapak ini sangat membantu.”Yang penting pantas dipakai saja,’’ ujarnya.

Disya, salah satu mahasiswa PTS di Jogja mengaku mencari kebaya untuk keperluan kegiatan kampus. Dia mendapat informasi jika di pasar ini ada penjual pakaian bekas, termasuk kebaya.”Daripada beli baru dan untuk kepentingan sesaat, lebih baik beli pekas. Toh masih bagus kondisinya,”ujarnya.

 

 

Editor : Din Miftahudin
#jogjakarta