RADAR MALIOBORO - Proses pindah memilih bagi para mahasiswa perantau yang difasilitasi oleh kampus secara umum sudah resmi ditutup Senin (15/1). Secara akumulatif, UGM akan memfasilitasi 2.728 mahasiswa dalam pesta demokrasi 14 Februari mendatang.
Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan UGM Hempri Suyatna mengatakan, total keseluruhan mahasiswa yang pindah memilih diperoleh sejak 13 Oktober 2023 hingga 15 Januari. Dari jumlah yang ada, hanya 255 mahasiswa yang terfasilitasi di Posko KPU UGM.
Sedangkan untuk sisanya, masih dalam proses di masing-masing KPU kabupaten/kota terdekat dengan domisili indekos atau kontrakan pemilih. "Sebab surat pengantar bisa juga diajukan oleh fakultas, jadi selain di Posko UGM banyak yang memilih di dekat domisilinya," paparnya.
Hempri mengungkapkan, UGM sendiri tidak memiliki target spesifik berapa mahasiswa yang mengurus prosesi pindah memilih. Disebutnya, kampus lebih berfokus pada peranan sebagai fasilitator. "Sebab fungsi kami lebih pada konteks fasilitasi," ungkapnya.
Terpisah, Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Arga Pribadi Imawan optimistis, partisipasi para mahasiswa pada pemilu mendatang cukup tinggi. Sekalipun banyak dari mereka termasuk pemilih baru.
"Jumlah mereka banyak dan ini momen memilih pertama bagi mereka," sebutnya.
Arga juga menuturkan, UGM sendiri turut mendukung penuh kontestasi pemilu mendatang. Salah satunya adalah dengan membuat penyesuaian pada prosesi perkuliahan di UGM.
Disebutnya, UGM memberikan pilihan bagi departemen atau fakultas untuk memundurkan prosesi perkuliahan jelang pemilu. Terhitung sejak 12 Februari, dan baru mulai kembali pada 19 Februari. Lalu pilihan kedua adalah memberikan opsi untuk melakukan perkuliahan secara daring atau online pada saat pemilu berlangsung.
"Kebetulan departemen saya memilih untuk memundurkan kuliah, itu juga langkah untuk mengapresiasi mahasiswa yang pulang kampung saat pemilu, agar bisa tenang memilih di daerahnya," bebernya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova