Di balik popularitasnya yang masih tinggi di kalangan masyarakat, tembakau memberikan kontribusi signifikan terhadap kemiskinan di negeri ini.
Menurut laporan Center for Strategic Development Initiatives (CISDI) Indonesia, penambahan angka kemiskinan akibat belanja tembakau akan mencapai 8,77 jiwa pada tahun 2021.
Selain uang saku rumah tangga yang dikeluarkan untuk membeli rokok, hal ini juga disebabkan oleh mahalnya biaya pengobatan penyakit akibat rokok.
Global Adults Tobacco melaporkan rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk rokok mencapai Rp382.000 per bulan.
Penelitian CISDI menunjukkan bahwa biaya pengobatan penyakit akibat merokok bisa berkisar antara Rp 17,9 triliun hingga Rp 27,7 triliun per tahun.
Ternyata penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa semakin miskin suatu masyarakat, semakin tinggi pula konsumsi tembakaunya.
Namun hal ini terjadi tanpa mereka sadari dan justru menjadi penyumbang terbesar bagi para pebisnis tembakau, sekaligus semakin menyulitkan keluarga mereka.
Perilaku merokok yang semakin dianggap lumrah menyebabkan banyak masyarakat yang beranggapan bahwa rokok adalah suatu kebutuhan, malah sebaliknya rokok mematikan dan dapat menghancurkan masa depan sebuah keluarga.
Editor : Bahana.