RADAR MALIOBORO - Investor saham ternama Andry Hakim kembali mencatat kerugian besar di pasar modal. Pada Kamis (29/01/2026). Portofolio sahamnya tercatat mengalami penurunan hingga Rp114 miliar dalam satu hari, berdasarkan tangkapan layar real-time yang ia bagikan melalui Instagram Story.
Angka tersebut terlihat dari kolom Today’s Return yang menunjukkan minus Rp114.488.043.770, memperlihatkan tekanan pasar yang masih berlanjut setelah IHSG ambruk tajam dalam beberapa hari hari terakhir.
Siapa Andry Hakim?
Bagi pelaku pasar, sosok ini bukan nama asing. Ia dikenal sebagai investor aktif sekaligus edukator saham, pendiri sejumlah platform investasi dan komunitas pasar modal. Rekam jejaknya kerap dikaitkan dengan strategi agresif namun terukur, termasuk saham-saham yang pernah mencetak multibagger saat pandemi.
Namun, kejadian pekan ini menunjukkan satu hal penting, yaitu investor berpengalaman pun tak kebal dari gejolak pasar ekstrem.
Sehari sebelumnya, Rabu (28/1), figur yang sering dijuluki market mover ritel ini sudah lebih dulu membagikan kerugian hingga Rp100 miliar, seiring anjloknya IHSG lebih dari 7 persen dan diberlakukannya trading halt oleh BEI.
Kondisi pada Kamis (29/1) menunjukkan tekanan pasar yang belum mereda. Bahkan, situasinya bisa dibilang lebih cepat memanas dibandingkan hari sebelumnya. Jika pada Rabu IHSG baru menyentuh batas penurunan ekstrem di sesi siang, maka pada Kamis tekanan sudah muncul kurang dari 30 menit setelah perdagangan dibuka.
IHSG kembali anjlok hingga menyentuh penurunan 8 persen, memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt untuk hari kedua berturut-turut. Pada pukul 09.26 WIB, sistem perdagangan dihentikan sementara selama 30 menit sesuai ketentuan bursa, setelah indeks jatuh tajam di awal sesi.
Tekanan dua hari berturut-turut ini masih berakar pada sentimen yang sama, yakni kekhawatiran investor terhadap posisi Indonesia di indeks saham global setelah keputusan MSCI menghentikan sementara proses rebalancing. Isu transparansi dan struktur kepemilikan saham membuat pelaku pasar memilih bersikap defensif, yang tercermin dari dominasi aksi jual sejak pembukaan perdagangan.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin