MANILA, 27 Maret 2026 – Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah semakin nyata.
Filipina menjadi negara pertama yang secara resmi mendeklarasikan darurat energi nasional pada 24 Maret 2026.
Menteri Luar Negeri Filipina, Ma. Theresa Lazaro, dalam wawancara eksklusif dengan Christiane Amanpour di CNN mengungkapkan bahwa cadangan minyak bumi (petroleum) negara itu hanya tersisa untuk 40-45 hari ke depan.
“Supply kami untuk kebutuhan petroleum sekitar 40 hingga 45 hari. Ini sudah berdampak pada masyarakat Filipina biasa, dengan efek berantai dari masalah energi,” ujar Lazaro seperti dikutip dari utas X (Twitter) Christiane Amanpour.
Filipina sangat bergantung pada impor minyak dari Teluk Persia, dengan 98% pasokan minyak mentahnya berasal dari wilayah tersebut.
Penutupan Selat Hormuz akibat perang AS-Israel melawan Iran telah mengganggu rantai pasok global, menyebabkan harga solar dan bensin di Filipina melonjak lebih dari dua kali lipat sejak akhir Februari 2026.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. langsung mengaktifkan kerangka respons UPLIFT (Unified Package for Livelihoods, Industry, Food, and Transport) sebagai pendekatan seluruh pemerintah untuk menangani krisis.
Pemerintah berjanji menjamin aliran pasokan bahan bakar dan mengamankan tambahan satu juta barel minyak.
Sementara itu, untuk mencegah pemadaman listrik, Filipina akan meningkatkan penggunaan batu bara secara sementara.
Deklarasi darurat ini berlaku selama satu tahun dan memberi wewenang pemerintah untuk mengambil langkah cepat, termasuk pengadaan bahan bakar, pencegahan penimbunan, serta pengendalian harga barang esensial seperti makanan, obat-obatan, dan transportasi.
Dampak ke Masyarakat dan Ekonomi
Lazaro menekankan bahwa krisis ini sudah “mengambil korban” pada warga biasa.
Harga bahan bakar yang melambung memicu ancaman mogok transportasi, kenaikan biaya logistik, hingga potensi gangguan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Beberapa serikat transportasi menyebut langkah pemerintah sebagai “plester sementara” yang belum menyentuh akar masalah ketergantungan impor.
Di sisi lain, pemerintah juga sedang mencari sumber alternatif, termasuk minyak dari Rusia (setelah ada relaksasi sanksi sementara) dan negara-negara lain.
Presiden Marcos meyakinkan publik bahwa pasokan crude oil saat ini cukup hingga akhir Juni 2026 jika pengadaan tambahan berhasil.
Pelajaran bagi Indonesia?
Krisis di Filipina ini menjadi sinyal kuat bagi negara-negara importir energi di Asia, termasuk Indonesia, untuk mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat ketahanan domestik.
Meski Indonesia memiliki cadangan sendiri, fluktuasi harga global dan gangguan pasok internasional tetap bisa berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat. (iwa)
(Artikel ini disusun berdasarkan pernyataan resmi dalam wawancara CNN dan utas X Christiane Amanpour (@amanpour), serta laporan media internasional terkait)
Editor : Iwa Ikhwanudin