Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pelecehan Emosi Timbulkan Luka yang Tidak Terlihat

Wulan Yanuarwati • Jumat, 1 Desember 2023 | 04:13 WIB
Hati-hati, Pelecehan Emosi Kerap Tak Disadari, Ini Penjelasan Antropolog Etty Indriati
Hati-hati, Pelecehan Emosi Kerap Tak Disadari, Ini Penjelasan Antropolog Etty Indriati

JOGJA - Pelecehan memiliki berbagai macam bentuk, tidak hanya sebatas pelecehan fisik saja. Namun ada pelecehan emosi yang menimbulkan luka yang tidak terlihat.

“Pelecehan jenisnya bermacam-macam, ada pelecehan emosi, pelecehan seksual, atau kekerasan fisik," tegasnya pada acara bedah bukunya berjudul 'Mengenal Pelecehan Emosional dan Proses Pemulihannya', Rabu (29/11).

"Kalau kekerasan fisik meninggalkan luka memar atau lebam, tidak demikian halnya dengan pelecehan emosi. Secara fisik tidak terlihat karena yang terluka batinnya,” jelasnya.

Etty menjelaskan pelecehan emosi seringkali tidak disadari. Ada kecenderungan orang yang mengalami pelecehan emosi justru merasa ragu. Apakah yang dialami merupakan hal wajar atau mengarah ke pelecehan.

"Orang justru meragukan diri sendiri, apakah ia hanya mengada-ada, apakah itu sebenarnya adalah hal yang normal. Tapi ilmu pengetahuan berkembang terus, dan apa yang dulu mungkin dianggap oke sekarang tidak lagi,” jelasnya.

Pelecehan emosi dapat dikenali melalui polanya yang cenderung konsisten. Menurutnya, ada kecenderungan mengontrol, berkuasa dan mendominasi. Selain itu juga ada tindakan memanipulasi dengan cara merendahkan, mendiamkan, mengabaikan maupun menyindir.

Termasuk tindakan menyalahkan dan mencurigai, baik melalui perbuatan atau kata-kata manis. Kemudian diselingi kebaikan-kebaikan dengan tujuan agar korban merasa bingung dan tetap mempertahankan relasi maupun hubungan.

“Pelaku pelecehan emosi tak hanya lihai memanipulasi dengan kata-kata supaya korbannya merasa bersalah. Padahal pelaku yang salah. Tapi juga menyangkal tidak melakukan," jelasnya.

Kemudian, pelaku menyerang korban dengan mengubah fokus masalah dan menuduh korban tidak memiliki perasaan yang stabil. Tidak sedikit juga yang menyerang dengan cara menggunakan teknik menyalahkan. Pelaku berdalih melakukan itu karena korban yang memulai dan menyebabkan perilaku itu dimulai.

Lebih lanjut, Etty mengatakan pelecehan emosi dapat diatasi dengan banyak cara. Diantaranya dengan berlatih membangun batasan dan berani berkata tidak. Kemudian berani berkata ya pada diri sendiri dan selalu berlatih asertif. Hal yang tak kalah penting ialah dukungan dari orang lain.

Veronica (20), mahasiwi salah satu Universitas swasta di Jogja mengaku tidak mengetahui ada pelecehan semacam itu, yakni pelecehan emosi. Dia mengaku pernah mengalami pengalaman tidak enak dalam relasi dengan pacarnya. Namun tidak menganggap itu sebuah pelecehan emosi.

"Memang pernah punya pacar tiba-tiba saya didiamkan dan dia pergi left unsaid (tanpa kata, red). Saya merasa tersiksa dan salah waktu itu karena didiamkan. Terus bertanya-tanya kenapa saya didiamkan. Saya berbuat apa. Eh, sampai sekarang ga ada penjelasan," jelasnya.

Vero menyayangkan hal itu. Apalagi hingga saat ini tidak ada komunikasi terbangun. Dia secara jujur merasa terbuang pada saat itu namun berhasil diatasi dengan baik. Vero menyibukkan diri dan selalu berfikir positif.

"Aku ikut organisasi di kampus. Nyanyi. Sibuk dan mulai sadar kalau aku berguna kok di lingkunganku, jadi dibuat have fun aja," imbuhnya. (lan)

Editor : Heru Pratomo
#emosi #ugm #pelecehan #luka batin #antropolog