RADAR MALIOBORO - Mahasiswa mata kuliah Pemasaran dari program studi Ilmu Komunikasi UMY menggelar ujian semester secara unik. Mereka mempresentasikan ide dan karya mereka di Yogyatourium Dagadu Djokdja pada Kamis (28/12) malam.
Dosen pengampu Rifqi Mansur Maya mengatakan, ujian ini dilakukan oleh mahasiswa semester lima. Pemilihan dilakukan di luar ruangan karena menurutnya, tantangan industri saat ini lebih besar dan orang ingin lebih impactful. “Makanya ujian langsung bertemu publik, di tempat-tempat yang lebih pop seperti di kafe atau Yogyatourium yang memiliki relasi kuat dengan pitching bisnis dengan brand sebelumnya,” ujarnya, Kamis (28/12).
Ujian ini diikuti oleh 80 mahasiswa dari dua kelas yang dibagi ke dalam delapan kelompok. Mereka dinilai oleh empat juri. Dua juri dari UMY dan juri dari industri bisnis. Yakni dari Dagadu Djokdja dan brand tas kulit Bucini. “Kami juga berusaha untuk membenturkan mahasiswa langsung dengan industri,” kata Rifqi.
Ia berharap mahasiswa bisa mengeluarkan soft skill mereka. Yakni bisa hadir dan mempresentasikan karyanya, lebih percaya diri, dan mengejar target bahwa mahasiswa berani karena peka akan sekitar. “Lalu kami juga perlu mengakomodasi ide-ide dari anak-anak muda ini. Harapannya muncul ide-ide baru dari mereka,” ucapnya.
Salah satu mahasiswa Muhammad Abdurrahman Rofieq menjelaskan, ia bersama kelompoknya mengusung tema food waste dan save the planet. Hal itu karena tingkat food waste di Indonesia masih relatif tinggi. Banyak makanan sisa dan dari UMKM kecil banyak sisa makanan yang tidak layak untuk dijual. “Bentuk produk kami aplikasi bernama Disctime. Buat ke depan mungkin tidak hanya food waste saja, dtapi bisa dikembangkan ke sektor lain,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu juri Ridwan Wahyu menilai konsep ujian ini berbeda dengan dulu. Menurutnya, mahasiswa sekarang lebih berani untuk menyampaikan ide. Meskipun idenya harus divalidasi lebih lanjut oleh industri. Baginya hal itu jadi satu hal yang menarik. Apalagi diinisiasi oleh Rifqi Mansur Maya, pelaku industri yang sedan mengajar di Ilmu Komunikasi UMY dan melibatkan beberapa industri, selain Dagadu Djogja ada juga dari brand Bucini. “Itu jadi salah satu hal yang nanti menjadi pengalaman yang berkesan untuk mahasiswa karena mendapatkan insight di luar dunia pendidikan,” ujar Marketing and Program Dagadu Djokdja ini.
Ridwan menilai karya-karya mahasiswa menarik. Hanya saja ada beberapa mahasiswa masih butuh catatan untuk mengembangkannya lebih lanjut. Ada juga yang memang sudah siap, tinggal dihubungkan dengan instansi atau kolaborator lain. “Ada juga yang sudah siap langsung jualan,” imbuhnya.
Menurutnya, ini menjadi salah satu langkah yang baik agar mahasiswa bisa mengeksplore lebih lanjut. Harapannya ke depan banyak hal yang bisa dieksplore lagi. Apalagi di era digitalisasi ini banyak problem yang belum selesai. “Artinya di mana ada problem, di situ ada peluang. Apalagi peluang bisnis. Tinggal gimana caranya melihat problem kemudian bisa dimonetize menjadi peluang bisnis,” tandas Ridwan. (tyo/ila)
Editor : Reren Indranila