RADAR JOGJA - Sebelum pemerintah, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan cuci tangan sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19, masyarakat Jawa sudah lebih dulu akrab dengan kegiatan itu. Menyediakan gentong sebagai padasan di depan rumah menjadi hal biasa pada zamannya.
Padasan berupa gentong besar terbuat dari tanah liat dan diberi lubang pada bagian depan bawah untuk jalan keluar air. Namun, kini tradisi membasuh diri dengan padasan perlahan mulai ditinggalkan. Seiring dengan peralihan zaman ke era yang lebih modern.
Penjual padasan gentong di Kasongan, Bantul, Narti mengakui, di luar masa pandemi peminat dan pembeli padasan tidak begitu banyak. Saat ini hanya kelompok tertentu yang membeli padasan. Seperti pihak rumah makan yang berkonsep alam.
"Biasanya rumah makan yang pakai gazebo gitu. Biar kelihatan alamnya mungkin. Sekarang yang banyak dicari itu pot tanaman," katanya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (5/1).
Sementara saat pandemi, diakui, pembeli padasan cukup banyak. Para pembeli padasan saat masa pandemi kebanyakan berasal dari sejumlah instansi seperti sekolah, pesantren, musala atau masjid. Sementara pada saat ini, pembeli perorangan sudah mulai jarang.
“Kalau pandemi ramai yang beli, karena mungkin untuk menggalakkan cuci tangan. Rata-rata sehari bisa 10 sampai 20 biji yang pesan,” ungkap Narti.
Pemilik toko Slamet Ceramic ini mengatakan, tokonya menyediakan padasan dengan tiga ukuran. Yakni kecil, sedang, dan besar. Ukurang sedang dan besar paling banyak peminatnya. Karena bisa menampung lebih banyak air. "Yang ukuran besar bisa sampai 25 liter. Kalau yang sedang sekitar 15 liter,” bebernya.
Untuk harga, padasan gentong berukuran besar dibanderol Rp 400 ribu. Ukuran sedang Rp 250 ribu, sedangkan ukuran kecil dihargai Rp 150 ribu. “Yang ukuran kecil paling hanya bisa menampung nggak lebih dari 10 liter air,” tambah Narti.
Meskipun saat ini jumlah pemesan padasan tidak menentu, tokonya tetap rutin membuat padasan gentong. Hanya saja, jumlahnya yang dibuat tidak banyak.
Untuk pembuatannya sendiri, Narti menyebut memerlukan waktu empat hingga lima hari hingga selesai. “Pembuatannya nggak bisa langsung jadi. Karena proses jemurnya bergantung sama sinar matahari,” jelasnya. (tyo/laz)
Editor : Satria Pradika