RADAR MALIOBORO - Dunia pendidikan Kota Jogja tercoreng di awal 2024 ini. Pasalnya, ada dugaan 15 anak menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan gurunya sendiri. Aksinya dilakukan di sekolah swasta di Kota Jogja. Atas peristiwa itu, sejumlah korban yang diwakili orang tuanya melaporkan kejadian tersebut ke Mapolresta Jogja.
Penasihat hukum (PH) para korban Elna Febi Astuti mengatakan, terungkapnya kasus ini berawal adanya keluhan anak-anak. Adapun peristiwanya terjadi sekitar Agustus hingga Oktober 2023. Anak-anak itu mengadu ke gurunya yang diteruskan ke kepala sekolah (kepsek).
Awalnya sempat dilakukan penyelidikan oleh pihak internal sekolah. Itu berdasarkan aduan 15 anak korban yang dilakukan pencatatan. "Ditemukan beberapa perlakuan seperti dipegang kemaluannya. Tidak hanya kekerasan seksual tetapi juga kekerasan fisik seperti diberikan pisau di leher dan di paha berupa ancaman dan dielus-elus dengan pisau," katanya saat melakukan laporan ke Mapolresta Jogja, kemarin (8/1).
Selain itu, para korban juga diajak untuk menonton video dewasa dan diajari memesan open BO di aplikasi. Terduga pelaku laki-laki inisial NB, 22, ini merupakan pengajar mata pelajaran konten kreator. Setelah dilakukan diskusi internal, akhirnya diputuskan untuk melakukan pelaporan ke polisi.
Namun proses untuk melakukan pelaporannya diakui Elna tidak mudah. Itu lantaran ada dampak psikologis dari kepsek sendiri yang memutuskan untuk melakukan laporan. Oleh karena itu, dari kejadian November, baru dilaporkan Januari 2024.
Ke-15 siswa SD yang menjadi korban diperkirakan usianya 11-12 tahun. Korban terdiri atas sembilan siswi dan enam siswa. "Kondisi psikologisnya itu yang kami cemaskan, karena kan itu tidak diketahui. Sekarang kami dampingi terus secara psikologis. Saat ini perlu asessment lebih lanjut," tambahnya.
Akibat kekerasan seksual yang dialami ini membuat banyak korbannya mengalami trauma. Ada yang trauma jangan laporan karena ada rasa ketakutan. "Terjadinya di sekolahan, baik di dalam kelas ataupun luar kelas. Tapi masih di lingkungan sekolahan," tambah Elna.
Laporan yang dilakukan oleh kepala sekolah, NB mengajar di sekolah itu baru sekitar satu tahun. Status gurunya sudah dinonaktifkan sejak penyelidikan internal dilakukan oleh sekolah.
Para korban memberanikan diri untuk melaporkan karena sudah sangat tidak nyaman secara psikologis. Tidak ada iming-iming yang dilakukan NB untuk melancarkan aksinya. Elna mengaku sedang melakukan tahap pelaporan ke Satreskrim Polresta Jogja. "Sedang diproses (laporannya, Red)," tuturnya.
Bukti yang diserahkan untuk laporan adalah tulisan para korban perihal yang dialaminya. Selain itu, akan ada bukti berupa visum psikiatrum Unit PPA Satreskrim Polresta Jogja. Parahnya, dari 15 korban itu ada juga anak dari kepala sekolah itu.
Sementara itu, Kasi Humas Polresta Jogja AKP Timbul Sasana Raharja memastikan laporannya diterima. Menurutnya, akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut dan perkembangannya akan diinformasikan. "Kami selidiki dulu kronologinya atau jalan ceritanya, apakah masuk unsur-unsur pidana atau tidak," ungkapnya. (rul/laz)
Editor : Satria Pradika