RADAR MALIOBORO - Pada Senin (22/1/2024), Menteri Imigrasi Kanada, Marc Miller, mengumumkan bahwa tahun ini Pemerintah Partai Liberal akan melakukan pembatasan sementara kepada visa pelajar.
Kebuijakan ini akan diberlakukan selama dua tahun.
Pemerintah negara paling utara di Amerika Utara ini hanya akan menerbitkan sekitar 364.000 visa.
Hal ini juga menetapkan batasan izin kerja terhadap pasca sarjana yang diberikan pada mahasiswa asing.
Pihaknya juga memungkinkan akan mendorong mereka (mahasiswa asing) untuk kembali ke negaranya masing-masing.
Dilansir dari The Business Standard, sebelumnya izin tersebut merupakan salah satu cara untuk mempermudah mendapatkan izin tinggal permanen.
Pelajar yang saat ini dalam program magister atau pasca doktoral akan berhak mendapatkan izin kerja selama tiga tahun.
Saat ini Kanada menjadi tujuan populer bagi pelajar internasional karena setelah menyelesaikan program kursus atau kuliah, mereka akan mendapatkan izin kerja dengan mudah.
Hal ini memantik lonjakan jumlah pelajar internasional. Hingga menyebabkan kekurangan apartemen sewaan, sehingga menaikkan harga sewa.
Selain itu pemerintah Kanada juga mengkhawatirkan kualitas pendidikan yang diberikan oleh beberapa institusi.
Setiap tahunnya Kanada memperoleh konstribusi sebesar C$22 miliar ($16,4 miliar) dari pelajar internasional.
Namun langkah ini disebut akan merugikan banyak institusi pendidikan yang telah memperluas kampusnya dengan harapan dapat terus menerima mahasiswa.
Ontario, salah satu provisnsi terpadat yang menerima jumlah pelajar internasional terbesar.
Beberapa perusahaan di wilayah teresbut termasuk restoran dan toko ritel telah memperingatkan bahwa pembatasan jumlah pelajar asing akan menyebabkan kekurangan pekerja sementara.
Saat ini beberapa restoran di seluruh Kanada sedang kekurangan tenaga kerja dengan hampir 100.000 lowongan pekerja.
Dan para pelajar internasional merupakan 4,6 persen dari 1,1 juta pekerja di industri jasa makanan pada tahun 2023.
Menurut data resmi pada tahun 2022 mayoritas pelajar di Kanada sekitar 40 persen berasal dari India, dan 12 persen berasal dari Tiongkok. (Firda Zahrotun Nisa/Radar Jogja)
Editor : Meitika Candra Lantiva