RADAR MALIOBORO - Maraknya kasus bullying atau perundungan di tingkat satuan pendidikan menjadi perhatian para akademisi. Berkaca pada masalah itu, Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM menggelar pelatihan tentang Sekolah Damai dan Antikekerasan.
Dosen Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) dan Peneliti LPSKP UGM Dody Wibowo mengatakan, kegiatan pelatihan diperuntukkan bagi manajemen sekolah, terutama kepala sekolah (kepsek). “Pelatihan digelar selama dua hari, dan berakhir kemarin,” kata Dody kemarin (24/1).
Dikatakan, pelatihan dilatarbelakangi maraknya kasus kekerasan di tingkat satuan pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hingga Agustus 2023, korban bullying mencapai 87 kasus. Kemudian anak korban kebijakan pendidikan 24 kasus, anak korban kekerasan fisik atau pun psikis 263 kasus, dan anak korban kekerasan seksual mencapai 487 kasus.
“Kemudian Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menerbitkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP),” sambungnya.
Salah satu poin pentingnya adalah kewajiban pembentukan tim pencegahan dan penanganan kekerasan di tingkat satuan pendidikan. Tapi, kesenjangan tentang pemahaman pada tingkat satuan pendidikan disebut Dody belum komprehensif. Khususnya tentang konsep kekerasan. Sehingga enjadikan tim yang dibentuk belum mampu berjalan efektif.
“Oleh karena itu, pendidikan perdamaian penting diberikan kepada manajemen sekolah,” kata Dody yang juga menjadi salah satu pengajar pelatihan.
Hal ini karena sekolah sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab terbesar. Khususnya dalam membuat dan mengambil keputusan untuk mengarahkan lembaga pendidikan.
Dalam pelatihan ini, kata Dody, peserta tidak hanya mendapatkan bekal pengetahuan dan keterampilan. Tetapi juga didampingi dalam menanamkan nilai-nilai perdamaian dalam cara berpikir (mindset) dari pihak menajemen sekolah.
“Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan, manajemen sekolah bisa membentuk tim penanganan kekerasan di sekolah masing-masing dengan lebih baik, sekaligus pencegahan,” jelasnya. (gun/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova