RADAR MALIOBORO – Membeli sebuah karya seni saat ini tidak harus melalui sebuah pameran dan lelang. Namun bisa lewat aplikasi e-commerce berupa Lukita karya mahasiswa di tiga universitas.
Dua orang di antaranya adalah Ahmad Syahruddin dan Lasyitha Azzahra dari Sekolah Vokasi Prodi Teknologi Rekayasa Internet UGM. Syahrudin menejelaskan, Lukita berperan sebagai perantara antara banyak pihak di bidang seni. Mulai dari seniman, peminat seni, kolektor, atau individu yang tertarik untuk membeli karya seni atau menggunakan jasa seniman.
"Lukita selaku startup memiliki fokus produk dan layanan. Tidak saja menawarkan barang seni, tetapi juga menyediakan berbagai jasa yang diberikan oleh seniman," sebutnya kemarin (21/2).
Disebutnya, ide awal tercetusnya Lukita datang dari keresahan dan keprihatinan terhadap kondisi seni dan budaya di Indonesia. Syahruddin menyebut, meskipun Indonesia kaya akan kekayaan seni yang luar biasa. Namun banyak seniman lokal yang menghadapi kesulitan dalam memasarkan karya mereka.
Seperti keterbatasan akses pasar seni lokal dan kurangnya pemahaman tentang seni lokal itu sendiri. "Kami ada fitur Art Searching Using Image Detection, itu memungkinkan pengguna menjelajahi seni dari gambar apa pun yang mereka ingin miliki," bebernya.
Dalam prosesnya, Lukita merupakan aplikasi mobile berbasis artificial intelligence (AI). Dari pantauannya, masih cukup jarang ditemukan di Indonesia khususnya sebagai jembatan antara seniman dan penikmat seni di era transformasi digital saat ini. "Dengan Lukita, kolaborasi di bidang seni harapannya semakin mudah dan aksesibel bagi semua," harapnya.
Tidak sendiri, Syahrudin dan Lasyitha turut dibantu oleh Ardelia Saphira Wedo Putri dari Fakultas MIPA Prodi Statistika serta Fadhil Wicaksono Nur Rahman dari UPN Veteran Yogyakarya (UPNVY). Serta Kadek Prima Giant Marta Dinata dan Putu Suardana dari Undiksha Bali.
Kolaborasi ini adalah hasil dari program Bangkit Academy 2023 Batch 1 bagian Studi Independen Kampus Merdeka Kemendikbud Ristek yang berhasil mendapatkan pendanaan dari Dikti dan Google. "Platform Lukita yang kami gagas ini berhasil masuk dalam Top 20 Best Capstone Project dari 787 project," katanya.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lukita dari Departemen Teknik Elektro dan Informatika Yuris Mulya Saputra menegaskan, sebagai sebuah inovasi teknologi di dunia seni, Lukita juga dihadirkan sebagai respons terhadap ancaman seni palsu yang muncul akibat perkembangan AI. "Dengan adanya AI dalam dunia seni, semakin meningkat potensi terciptanya karya seni palsu dan sulit dibedakan," ujarnya.
Dikatakannya, Lukita hadir sebagai solusi dengan memberikan rasa percaya kepada para penggemar seni. Melalui platform ini, seniman memiliki wadah untuk secara langsung memamerkan dan memasarkan karyanya.
"Ini bukan sekadar platform seni, tapi juga sebuah komunitas di mana seniman dapat berinteraksi langsung dengan penikmat dan ada transaksi di sana," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova