Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Keluarga hingga Sosmed Ikut Berperan terhadap Tindakan Bullying pada Anak

Fahmi Fahriza • Kamis, 29 Februari 2024 | 16:05 WIB

 

 

Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan UNY Ariefa Efianingrum
Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan UNY Ariefa Efianingrum

RADAR MALIOBORO - Kasus bullying yang dilakukan dan menimpa seorang anak kembali terjadi di beberapa wilayah. Secara garis besar, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi dan mempengaruhi timbulnya perilaku bullying pada anak.

 

Yakni peran keluarga yang merupakan ekosistem pertama. Dalam hal ini adalah orang tua, yang menjadi lingkungan terdekat anak. Mereka mengemban peran penting dalam menanamkan berbagai nilai keutamaan. "Disfungsi yang terjadi dalam keluarga menyebabkan proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai tersebut menjadi terhambat," kata Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan UNY Ariefa Efianingrum kemarin (28/2).

 

Dia juga menuturkan, peer group sebagai circle pertemanan yang intens melakukan interaksi sosial juga sangat berpengaruh terhadap pilihan tindakan anak. Dalam konteks satuan pendidikan, kultur sekolah yang kurang kondusif juga bisa menyebabkan kasus bullying masih kerap terjadi di kalangan siswa. 

 

"Bahkan di era digital saat ini, sosial media hadir dan membentuk komunitas atau lingkungan sosial baru di dunia maya yang sering disebut sebagai online society," paparnya.

 

Selain itu, sosial media turut berfungsi dalam merepresentasikan realitas di dunia nyata.

Namun sekaligus mensimulasikan realitas semu di dunia maya. Disebutnya, sosial media (sosmed) perlu diwaspasi kehadirannya. Karena membawa serta dan mengekspos konten-konten yang mengandung berbagai nilai, menampilkan tindakan, dan menunjukkan simbol yang tidak semuanya bermakna positif bagi anak. 

 

"Risiko negatif dari sosial media saat ini adalah menjadi inspirasi sekaligus menjadi ruang baru untuk memproduksi nilai, tindakan, dan simbol kekerasan," ujarnya.

 

Dia menilai, interaksi anak dengan media yang sangat intens bisa berakibat buruk. Yakni dapat terjadi adiksi sosial media dan gadget jika penggunaannya tidak dibatasi. 

Oleh karena itu, pembatasan penggunaan gadget untuk mengakses sosial media secara terus-menerus perlu dilakukan. Bisa melalui kontrol sosial dan pembiasaan, agar anak berperilaku bijak dan kritis dalam bersosial media.

 

Ariefa turut menegaskan, bahwa bullying dapat menjadi sebuah pengalaman yang sangat buruk dan traumatis bagi anak. "Dampaknya mengkhawatirkan dan bervariasi bagi setiap individu. Seperti dendam, stress, trauma, depresi, hingga percobaan melakukan bunuh diri," bebernya.

 

Pengalaman menjadi korban bullying di masa lampau, juga menandakan bahwa nilai kekerasan telah dikenali sejak lama oleh anak. Hal tersebut dapat berdampak pada normalisasi dan pembiasaan kekerasan. "Anak bisa menganggap kekerasan bukan sebuah tindakan yang melanggar norma dan aturan, namun sebagai kebiasaan yang telah diakrabinya sejak lama," tandasnya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#bulyying #orang tua #anak