Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Startup Jadi Pilihan Alternatif untuk Pekerjaan Mahasiswa

Fahmi Fahriza • Senin, 4 Maret 2024 | 15:00 WIB

 

TERUS BELAJAR: Kumpulan startup dari Jogjakarta saat mengadakan sesi sharing di Indigo Hub Jogjakarta beberapa waktu lalu.
TERUS BELAJAR: Kumpulan startup dari Jogjakarta saat mengadakan sesi sharing di Indigo Hub Jogjakarta beberapa waktu lalu.

RADAR MALIOBORO - Ekosistem perusahaan rintisan atau startup kini semakin masif bertumbuh termasuk di wilayah DIJ. Secara umum banyak juga startup tersebut yang lahir dari sektor perguruan tinggi. Tak heran, tak sedikit kalangan mahasiswa yang ikut terjun di dalamnya.

 

Seperti yang dilakukan oleh Nizar Widianto, pelaku startup yang membidangi pendidikan konseling. Selama setahun terakhir ia fokus mengembangkan startup miliknya. "Masih kecil ini skalanya, baru dijalankan tiga orang bareng teman-teman kuliah saja," kata mahasiswa Pendidikan Guru SD UNY tersebut kemarin (3/3).

 

Nizar menyampaikan, alasannyanya untuk membuat startup adalah karna jadi alternatif pekerjaan yang relevan saat ini. Dan akan sangat dibutuhkan di masa mendatang. Terlabih industri kreatif startup juga kian gencar disosialisasikan. Termasuk di ranah formal universitas melalui seminar publik, kunjungan atau kerja sama yang dijalin pihak universitas dengan startup. "Sekarang makin banyak jenis startup, termasuk pendidikan, jadi secara tidak langsung ini implementasi dari hasil belajar saya," ungkapnya.

 

Untuk menunjukkan keseriusannya menjalankan startup, dia sendiri mengaku cukup aktif terlibat dalam agenda yang dilangsungkan komunitas startup. Untuk mempelajari proses funding, pitching, hingga development konten. Selain itu, dia juga beberapa kali mengikuti program pendanaan bagi startup. "Sama seperti usaha lain, dana itu cukup jadi persoalan," bebernya.

 

Kendati demikian, dia optimistis bahwa di tahun-tahun mendatang, startup jadi sektor pekerjaan yang akan semakin dilirik. "Saya lihat pemerintah juga makin aware dengan startup, inginnya tentu ada regulasi dan program funding yang rutin diadakan," harapnya.

 

Mahasiswa lain yang juga pelaku startup adalah Albara Bimakasa. Bara sendiri memiliki startup yang membidangi kesehatan. Mahasiswa UII ini bercerita, bahwa ekosistem startup di lingkungan perguruan tinggi saat ini memang cukup banyak. Bahkan terus menunjukkan progresi yang positif.

 

"Saya lihat banyak mahasiswa yang sekarang bikin startup, itu hal yang positif juga untuk memajukan industrinya," ujarnya.

 

Dia berharap, ekosistem pertumbuhan startup bisa dibarengi dengan campur tangan pemerintah. Termasuk juga dalam regulasi yang dibuat. Sebab selain pendanaan, masalah lain yang dihadapi startup adalah rawannya kebocoran data pengguna.

 

"Itu kan kaitannya dengan user atau pengguna startup kita, jadi harusnya ada regulasi dan aturan yang jelas soal itu," jelasnya.

 

Sejauh ini, salah satu langkah yang intensif dilakukannya adalah dengan melakukan pengecekkan berkala. Hingga mempelajari undang-undang yang mengatur terkait penyalahgunaan data pribadi. "(Sebab, Red) startup saya itu isinya data-data pasien rumah sakit," tandasnya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#mahasiswa #startup baru