RADAR MALIOBORO - Minat calon mahasiswa untuk memilih jurusan matematika di perguruan tinggi Jogjakarta terus menurun. Penyebabnya bukan karena stigma negatif pelajaran matematika itu 'menakutkan'. Namun karena minimnya peluang kerja.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan ailmu Pendidikan Universitas Cokroaminoto (Uncok) Jogjakarta Ika Septi Hidayati. Dia menyebut, tingginya minat calon mahasiswa memilih jurusan matematika terhent pada 2021 dan 2022.
"Semenjak PNS dihilangkan dan diganti P3K, sebagian besar kampus di DIJ menurun mahasiswanya," bebernya kemarin (6/3).
Aturan mengenai P3K dikontrak setiap lima tahun sekali, bisa diperpanjang asalkan melewati proses evaluasi. Sedangkan PNS menerima uang pensiun dengan masa kerja panjang mencapai 60 tahun.
"Ada mahasiswa saya menyesal karena tidak jadi PNS. Mahasiswa-mahasiswa itu seperti itu pikirannya," ungkapnya dosen generasi 90-an ini.
Meski demikian, matematika juga tidak bisa dipisahkan dari stempel 'horor'. Yang bisasanya telah diterima para pelajar sejak duduk di sekolah dasar. Namun faktanya, pelajaran matematika bukan pelajaran rumit. Caranya, menerapkan pembelajaran sesuai dengan tingkat kesulitan.
"Jadi, pembelajaran matematika harus urut. Misal ada geometrik bidang dipelajari, baru belajar ke geometrik ruang. Menerapkan pembelajaran bertahap sesuai dengan tingkat kesulitan," bebernya.
Khusus untuk siswa SMA sederajat, pembelajaran matematika harus dengan cara dipahami. Bukan menghafal. "Kalau menghafal rumus bakal lupa, tapi kalau memahami konsepnya meskipun soal berubah bentuk tetap bisa mengerjakan," ungkapnya.
Tips selanjutnya, rutin melatih diri seperti mengerjakan soal-soal. Sebab latihan adalah guru terbaik. "Lalu ada diskusi terkait matematika di luar jam belajar, karena suasana lebih santai," ucapnya. (gun/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova