Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Berjaya di Era 1989, Siswa di SMK Budhi Dharma Piyungan Tersisa 19 Orang

Gunawan RaJa • Rabu, 27 Maret 2024 | 17:00 WIB

 

MENGABDI: Kepala SMK Budhi Dharma Piyungan Sudirman saat ditemui di sekolah kemarin (26/3).
MENGABDI: Kepala SMK Budhi Dharma Piyungan Sudirman saat ditemui di sekolah kemarin (26/3).

 

RADAR MALIOBORO - Lembaga pendidikan swasta turut memiliki andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi tidak sedikit sekolah non-negeri henti napas karena kehabisan murid. Kondisi ini pun hampir dirasakan oleh SMK Budhi Dharma Piyungan, Bantul yang kini hanya memiliki 19 peserta didik.

MASUK ke komplek SMK Budhi Dharma Piyungan, Bantul disambut dengan pintu gerbang dengan background musala menjulang tinggi. Terdengar sampai anak-anak bersenda gurau dari dalam kelas.

"Saya yang bertanggung jawab di sekolah ini," kata seorang laki-laki yang menyambut kedatangan Radar Jogja kemarin (26/3).

 

Dia adalah Kepala SMK Budhi Dharma Piyungan. Namanya Sudirman. Merupakan guru akuntansi, yang sudah mulai mengajar di sekolah ini sejak 1989. Saat SMK Budhi Dharma baru berusia 16 tahun.

"Waktu itu jumlah murid sangat banyak. Tiga kelas paralel sampai empat kelas paralel atau 12 kelas. Satu kelas rata-rata 40 murid," kata Sudirman.

 

Pada tahun itu, mayoritas murid berasal dari luar Kabupaten Bantul. Kuat dugaan banyaknya jumlah siswa pada saat itu karena dua faktor. Pertama karena jumlah lembaga pendidikan terbatas, kedua mapel akuntansi di era tersebut sangat diminati.

 

"Sebanyak 80 persen siswa pada periode tahun itu berasal dari Kabupaten Gunungkidul," ujarnya.

 

Performa SMK Budhi Dharma terus menurun seiring dengan banyak bermunculan SMKN dan SMAN sekitar 2009. Diakui kondisi demikian juga dialami sekolah swasta lainnya. Bahkan sekolah negeri sekalipun kekurangan murid.

 

"Sekarang jurusan kami ada dua yakni, akuntansi dan pemasaran," jelasnya.

 

Sekarang, SMK Budhi Dharma memiliki jumlah 19 siswa dan 16 guru. Terdiri dari kelas I enam siswa, kelas II dengan lima anak, dan delapan orang di kelas III. Untuk tahun ajaran baru pihaknya berupaya meningkatkan promosi.

 

"Pihak yayasan juga bekerja sama dengan pondok pesantren. Kami tetap berupa menyelamatkan sekolah agar jangan sampai tutup," ungkapnya.

 

Sudirman memastikan meski jumlah siswa sangat minimalis, namun kegiatan belajar mengajar (KBM) berjalan dengan normal. Sedikit berbagi info mengenai biaya operasional sekolah, setiap murid tersasar program dana BOS. "Kami mengandalkan donatur juga," ucapnya.

 

Walau semua serba terbatas, jebolan SMK Budhi Dharma banyak yang jadi orang sukses. Ternyata jurusan akutansi memang membawa manfaat. Terbukti banyak alumni jadi pejabat dari atas sampai level kalurahan.

 

"Para alumni juga menyebar di kantor-kantor pemerintahan. Kalau anak-anak mau daftar silakan, kami juga memfasilitasi program beasiswa bagi yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi," bebernya.

 

Sementara itu, riuh suara sejumlah perempuan berseragam putih abu-abu terdengar di halaman sekolah. Mereka adalah Eva Alifianingsih, Syapika, dan Safinas. Karena sekolah yang minim siswa, membuat mereka fokus belajar. Namun mereka turut berharap, akan ada banyak siswa yang mendaftar di sekolahnya. "Semoga tahun ajaran baru banyak siswa yang belajar di sekolah ini," kata Eva diikuti anggukan kedua temannya. (gun/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
#akuntansi #SMK Budhi Dharma Piyungan