Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Logika Anak Belum Optimal, Bisa Salah Tiru Perilaku Orang Tua

Fahmi Fahriza • Senin, 1 April 2024 | 16:05 WIB

 

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMY Suciati
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMY Suciati

RADAR MALIOBORO - Banyak hal yang dilakukan anak adalah peniruan dari orang tuanya. Cara berpikir dan logika anak yang belum sepenuhnya optimal, dikhawatirkan anak akan menirul hal yang negatif.

 

"Seringkali, anak itu tidak tahu secara langsung apa konsekuensi dari hal-hal yang dilakukannya," kata Guru Besar bidang Psikologi Pendidikan Islam yang juga dosen Ilmu Komunikasi UMY Suciati kemarin (31/3).

 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk selalu mencontohkan secara langsung hal-hal baik. Karena besar kemungkinan hal tersebut yang akan ditiru dan dibawa anak hingga dewasa.

 

Dikatakan, bahwa anak itu pada dasarnya mempunyai kepribadian untuk mudah meniru dan jujur. Ketika anak berbicara apa adanya, mungkin bukan diniatkan untuk menyakiti seseorang. Tapi memang sebuah bentuk kejujuran.

 

"Hanya saja dia belum bisa memilah kata yang baik dan cara ideal menyampaikannya seperti apa. Itu adalah tanggung jawab orang tua," serunya.

 

Secara umum, Suciati memetakan bahwa kategori usia anak cukup bervariasi. Jika menilik pada teori psikologi, disebutnya usia anak terhitung sejak 0 sampai 12 tahun. Namun ada juga teori yang mengatakan, usia anak hingga 18 tahun.

 

"Remaja itu masih dalam kategori anak dan jadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya," tuturnya.

 

Dia menegaskan, hakikatnya orang tua harus menyadari bahwa semua perilakunya diteropong dan diimitasi oleh sang anak. Hal tersebut bisa berbahaya ketika orang tua melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Seperti bullying, berperilaku tidak baik, atau berkata kasar.

 

Disebutnya ketika orang tua tidak menjadi teladan, maka besar kemungkinan akan ditiru oleh anak. Misal orang tua melakukan bullying kepada teman atau bawahannya. Baik secara verbal atau fisik. Dia tidak menganggap itu hal yang buruk dan menganggap itu hal yang biasa dan boleh untuk ditiru.

 

"Akan menjadi bahaya ketika itu ditiru oleh anak dan dilakukan di ruang publik, yang mana tidak dalam pantauan orang tua," rincinya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#Guru Besar UMY #anak