Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kemendikbudristek Tegaskan Sastra Bukan Hanya untuk Pelajaran Bahasa Indonesia

Marsa Andiny Putri • Kamis, 23 Mei 2024 | 18:13 WIB
Novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer.
Novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer.

RADAR MALIOBORO - Kementerian Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Kemendikbudristek) menegaskan, kurikulum program sastra tidak hanya mata pelajaran Bahasa Indonesia saja. Namun sastra harus diasimilasikan ke dalam seluruh mata pelajaran yang ada.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan kehadiran sastra dalam pengajaran ada di beberapa kelas. Namun terbatas pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, kami mendorong para guru untuk menggunakan karya sastra hasil kurasi sebagai bahan ajar melalui program Sastra dalam Kurikulum.

”Bukan hanya bahasa Indonesia, tapi juga untuk berbagai mata pelajaran,” ujarnya dalam peluncuran program Sastra Masuk Kurikulum.

Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo menekankan, program ini jelas berbeda dengan program sebelumnya yang pernah ada. ”Jika sebelumnya siswa diminta membaca 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, di program ini tidak. Sastra benar-benar dilebur ke dalam jam pelajaran, bukan tambahan” terangnya.

Menurut Eka Kurniawan, penulis sekaligus salah seorang anggota tim kurator buku sastra untuk program Sastra Masuk Kurikulum, sebagai penulis maupun pembaca, selama ini dirinya memiliki banyak rekomendasi buku sastra Indonesia. Namun, menyusun daftar resmi buku sastra untuk sekolah ternyata tak semudah itu.

Pihaknya mencoba membuat daftar karya sastra, mulai 1980–1990-an hingga yang terbaru, untuk kemudian dikurasi. Dibantu para guru, proses kurasi ini menekankan agar buku sastra tersebut bukan sekadar daftar untuk pencinta karya sastra. ”Tapi, karya sastra untuk anak sekolahan juga,” katanya.

Dihubungi terpisah, sastrawan, sosiolog, dan tim kurator Sastra Masuk Kurikulum Okky Madasari menyampaikan bahwa harapan adanya kebijakan Sastra Masuk Kurikulum disimpan sejak lama oleh banyak pihak. ”Tentu saya menyambut baik tawaran untuk terlibat dalam program ini,” katanya.

Dia mengakui, selama ini memang sudah ada sekolah-sekolah yang menggunakan karya sastra sebagai bahan ajar. Namun, sifatnya masih sporadis, bergantung inisiatif guru, dan kebanyakan terbatas pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

”Kenapa baru sekarang? Ini tentu juga sangat bergantung pada kesadaran dan keberanian pembuat kebijakan. Kebetulan, saat ini pemegang kebijakan di Kemendikbudristek sangat menyadari pentingnya sastra masuk kurikulum dan berani untuk membuat keputusan,” paparnya.

Terkait dengan proses kurasi, Okky mengungkapkan bahwa prosesnya dimulai sejak pertengahan tahun lalu. Setidaknya ada 17 kurator yang terdiri atas sastrawan, akademisi, hingga guru-guru sekolah.***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#sastra #Kemendikbudristek #Kemendikbduristek #dikti