Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tiga Fakta tentang Kota Jogja yang Perlu Diketahui Anak Muda Milenial

Iwa Ikhwanudin • Senin, 3 Juni 2024 | 17:36 WIB
Trans Jogja, angkutan umum di Yogyakarta. Keliling Jogja tapi nggak punya kendaraan, kalian bisa memanfaatkan transportasi ini untuk berwisata khususnya di Kota Jogja.
Trans Jogja, angkutan umum di Yogyakarta. Keliling Jogja tapi nggak punya kendaraan, kalian bisa memanfaatkan transportasi ini untuk berwisata khususnya di Kota Jogja.

RADAR MALIOBORO - Kota Yogyakarta memiliki sejarah yang kaya dan menarik.

Berikut adalah tiga fakta menarik terkait berdirinya Kota Yogyakarta:

1. Perjanjian Giyanti: Pada 13 Februari 1755, terjadi Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Gubernur Nicolas Hartingh atas nama Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Perjanjian ini membagi wilayah Negara Mataram menjadi dua bagian: setengah menjadi hak Kerajaan Surakarta, dan setengah lagi menjadi hak Pangeran Mangkubumi.

Pangeran Mangkubumi kemudian diakui sebagai Raja atas setengah daerah pedalaman Jawa dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Daerah yang menjadi kekuasaannya termasuk Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede, serta beberapa daerah mancanegara. 

2. Pemilihan Lokasi: Setelah perjanjian tersebut, Sultan Hamengku Buwono I menetapkan bahwa daerah Mataram yang berada dalam kekuasaannya akan diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta).

Tempat yang dipilih sebagai ibukota adalah hutan yang disebut Beringin, yang sudah memiliki sebuah desa kecil bernama Pachetokan.

Di sana juga terdapat pesanggrahan bernama Garjitowati, yang sebelumnya dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dan kemudian diubah namanya menjadi Ayodya.

Sultan Hamengku Buwono I memerintahkan rakyat untuk membuka hutan tersebut dan membangun Kraton.

Sebelum Kraton selesai, Sultan Hamengku Buwono I sementara menempati pesanggrahan Ambarketawang di daerah Gamping.

Namun, setahun kemudian, Sultan Hamengku Buwono I memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya, dan Kota Yogyakarta pun berdiri pada tahun 1755. 

Namun Baca Juga: Tayang 6 Juni di Prime Video, Intip Sinopsis dan Deretan Pemain di Film “Dinda”, Lanjutan dari Serial “Kisah Untuk Geri”

3. Kota Pelajar, Wisata, dan Budaya: Yogyakarta tidak hanya memiliki sejarah kerajaan yang kaya, tetapi juga dikenal sebagai Kota Pelajar, Kota Wisata, dan Kota Budaya.

Keberagaman budaya, seni, dan tradisi membuat Yogyakarta menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia. 

Sejak saat itu, Kota Yogyakarta terus berkembang dan menjadi pusat kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata di Indonesia. ***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kota jogja #kasultanan jogjakarta #Giyanti #Perjanjian