RADAR MALIOBORO - Konsep cancel culture mulai berkembang dengan pesat pada awal tahun 2010-an seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial sebagai platform untuk mengungkapkan pendapat dan menyebarkan informasi.
Istilah "cancel" dalam konteks ini diambil dari budaya pop, terutama dari serial televisi dan media hiburan, yang menunjukkan bahwa karakter atau acara bisa "dibatalkan" jika tidak populer atau menimbulkan kontroversi. Fenomena ini menjadi lebih umum di akhir tahun 2010-an, dengan kasus-kasus terkenal yang melibatkan selebritas, politisi, dan tokoh masyarakat yang mendapat kecaman luas di media sosial,cancel culture sering kali terkait dengan gerakan sosial seperti #MeToo, di mana individu yang melakukan pelanggaran seksual diungkap dan dipermalukan di depan publik.
*Faktor Penyebab Cancel Culture*
1. Media Sosial
Media sosial memudahkan penyebaran informasi dan memobilisasi opini publik dengan cepat, yang dapat meningkatkan tekanan terhadap individu atau organisasi yang dianggap bersalah.
2. Peningkatan Kesadaran Sosial
Peningkatan kesadaran tentang isu-isu seperti rasisme, seksisme, homofobia, dan diskriminasi lainnya telah mendorong orang untuk lebih vokal dalam menuntut pertanggungjawaban atas perilaku yang tidak dapat diterima.
3. Respons terhadap Kekuasaan
Cancel culture sering kali dilihat sebagai cara bagi masyarakat untuk menuntut tanggung jawab dari individu atau entitas yang memiliki kekuasaan atau pengaruh, seperti selebriti, perusahaan besar, dan pemerintah.
*Jenis-Jenis Cancel Culture*
1. Boikot Produk atau Jasa
Menyerukan kepada publik untuk berhenti menggunakan produk atau layanan dari perusahaan yang dianggap melakukan kesalahan.
2. Penghentian Dukungan
Menghentikan dukungan terhadap individu, seperti berhenti mengikuti akun media sosial atau berhenti membeli karya mereka.
3. Pemecatan atau Pengunduran Diri
Menuntut pemecatan atau pengunduran diri dari posisi publik bagi mereka yang terlibat dalam kontroversi.
Sebagai contoh, Idol K-pop sering kali menjadi target cancel culture karena standar moral yang tinggi dari masyarakat dan penggemar. Kasus-kasus yang melibatkan komentar kontroversial, perilaku masa lalu, atau tindakan yang dianggap tidak pantas dapat memicu reaksi publik yang keras. Penulis J.K. Rowling menjadi subjek cancel culture setelah membuat pernyataan yang dianggap transphobic di media sosial, yang memicu boikot terhadap karya-karyanya oleh sebagian masyarakat.
*Dampak Cancel Culture*
1. Dampak Positif:
Cancel culture dapat mendorong akuntabilitas dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu sosial penting, serta memberikan suara kepada kelompok yang sebelumnya terpinggirkan.
2. Dampak Negatif:
Fenomena ini dapat menjadi bentuk hukuman publik yang berlebihan tanpa proses yang adil, mengakibatkan kerugian pribadi dan profesional yang signifikan bagi individu yang terlibat. Cancel culture juga bisa menyebabkan polarisasi dan ketakutan untuk mengekspresikan pandangan yang kontroversial, menghambat diskusi terbuka dan konstruktif.
Secara keseluruhan, cancel culture adalah fenomena yang kompleks dengan dampak yang luas pada individu, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan. Sementara ia dapat mempromosikan akuntabilitas, ia juga menimbulkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kritik yang sah dan penghakiman berlebihan.
(Rumyanah Irvadia)
Editor : Iwa Ikhwanudin