Radar Malioboro - Mahasiswa Program Studi (Prodi) S-1 Farmasi dan S-1 Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berhasil meraih pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksata (RE) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) tahun 2024. Kelompok yang terdiri dari Ridwan Pangestu, Nabila Salzabil, Nur Aini Dini Islamiyah (S-1 Farmasi) dan Ahmad Fauzi Arsyad (S-1 Kedokteran) didampingi oleh Dr.rer.nat.apt. Sri Mulyaningsih, M.Si. berupaya menghentikan Salmonella Sp pada telur asin dengan menggunakan limbah kulit nanas (Ananas comosus).
Setiap tahun, bakteri ini dapat berkontribusi pada 200 juta hingga lebih dari 1 miliar infeksi global, dengan 93 juta kasus gastreonteritis, 155.000 kematian, dan 85% penyakit yang berkaitan dengan makanan. Karena kondisi sanitasi peternakan yang buruk saat mengumpulkan dan menyimpan telur, telur asin menjadi salah satu produk yang rentan terkontaminasi.
“Pemanfaatan vinegar dari kulit nanas sebagai biopreservatif untuk menghambat bakteri Salmonella Sp pada telur asin masih jarang diteliti. Ini merupakan ide kreatif untuk memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi manusia,” ujar apt. Sri.
Riset tersebut telah dilakukan selama empat bulan sejak bulan April 2024 di Laboratorium Fakultas Farmasi UAD menggunakan biopreservatif vinegar limbah kulit nanas yang kaya akan nutrisi. Asam asetat pada kulit nanas diambil dari proses fermentasi untuk selanjutnya diuji di laboratorium. Selain itu, dilakukan pula pengujian kandungan kadar garam sebagai syarat mutu telur asin.
Ridwan Pangestu sebagai ketua tim berharap agar penelitian ini dapat mengurangi kasus salmonellosis di Indonesia. “Seperti yang kita ketahui bersama, penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi hingga kematian jika tidak ditangani sesegera mungkin. Selain mengurangi limbah di sekitar kita, penelitian ini juga sangat menguntungkan penjual telur asin karena terdapat efisiensi waktu yang ditawarkan tetapi produk yang dipasarkan tetap memenuhi syarat mutu Standar Nasional Indonesia (SNI),” katanya. ***
Sumber: uad.ac.id
Editor : Iwa Ikhwanudin