Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Apa itu Pasaran dan Weton dalam Penanggalan Jawa?

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 03:40 WIB
illustrasi pasaran (Sumber: Editing Pribadi Penulis)
illustrasi pasaran (Sumber: Editing Pribadi Penulis)

RADAR MALIOBORO - Hari pasaran Jawa dan weton adalah konsep penting dalam penanggalan dan budaya Jawa yang memiliki makna spiritual dan filosofis yang mendalam. Berikut penjelasannya:

 Hari Pasaran Jawa

Hari pasaran adalah sistem penanggalan tradisional Jawa yang terdiri dari lima hari yang berputar, disebut sebagai "Pasaran." Lima hari tersebut adalah:

1. Legi

2. Pahing

3. Pon

4. Wage

5. Kliwon

Hari pasaran ini berjalan bersamaan dengan tujuh hari dalam minggu umum (Senin, Selasa, Rabu, dst.), sehingga setiap hari dalam kalender Jawa memiliki kombinasi antara hari pasaran dan hari umum. Misalnya, Senin Kliwon, Selasa Legi, dan seterusnya. Kombinasi ini menciptakan siklus yang disebut Weton.

 Weton

Weton adalah kombinasi dari hari dalam minggu (misalnya Senin, Selasa) dan hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Setiap orang dalam budaya Jawa memiliki weton kelahiran yang diyakini memiliki pengaruh pada sifat, karakter, dan nasib orang tersebut. Misalnya, seseorang yang lahir pada Senin Kliwon memiliki weton Senin Kliwon.

 Sejarah dan Asal Usul

Sistem penanggalan ini berasal dari pengaruh Hindu-Buddha di Jawa, yang kemudian berbaur dengan tradisi Islam dan lokal. Kalender Jawa sendiri merupakan sinkretisme dari kalender Hindu dan kalender Islam. Kalender ini diciptakan pada masa Sultan Agung dari Mataram (abad ke-17), yang memadukan kalender Hijriyah dengan sistem penanggalan lokal yang sudah ada sebelumnya, seperti sistem pasaran ini.

 Makna dan Filosofi

Weton dan hari pasaran memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Beberapa makna penting dari weton dan hari pasaran adalah:

1. Pengaruh Karakter dan Nasib: Weton dipercaya memengaruhi sifat dasar seseorang, kepribadian, bahkan perjalanan hidup dan nasibnya.

Oleh karena itu, weton sering kali dijadikan panduan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pernikahan, usaha, dan pertanian.

2. Panduan untuk Kehidupan: Dalam masyarakat Jawa tradisional, weton digunakan untuk menentukan hari-hari yang baik untuk melaksanakan acara-acara penting, seperti pernikahan, memulai bisnis, pindah rumah, atau upacara adat lainnya.

Misalnya, ada kepercayaan tertentu tentang hari yang cocok untuk melakukan kegiatan tertentu, berdasarkan weton seseorang.

3. Filosofi Keselarasan dan Keseimbangan: Weton mengajarkan pentingnya keseimbangan dan harmoni antara alam, manusia, dan spiritualitas.

Dalam budaya Jawa, segala sesuatu diyakini memiliki waktu dan tempat yang tepat.

Weton dan hari pasaran membantu manusia untuk hidup selaras dengan ritme alam dan kehendak ilahi.

4. Kearifan Lokal: Sistem weton dan hari pasaran adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang mencerminkan cara masyarakat Jawa memandang dunia dan berhubungan dengan alam serta kekuatan spiritual.

Hal ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menghargai waktu, perhitungan, dan siklus alam.

 Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari konsep weton dan hari pasaran Jawa, kita dapat belajar tentang pentingnya keseimbangan dalam hidup, menghargai waktu, dan menghormati tradisi serta kearifan lokal.

Weton mengingatkan kita bahwa setiap hari memiliki energi yang unik dan bahwa dengan memahami ritme tersebut, kita bisa hidup lebih selaras dengan alam dan mencapai kehidupan yang lebih baik dan harmonis.

(Rumyanah Irvadia)

Sumber: 

- Primbon Jawa

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Primbon adalah #weton adalah #primbon #Pasaran