Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Ketika Cita-Cita Saat Lulus SMK Tercapai, Najib Meraih Mimpi Kuliah di Deggendorf Institute of Technology Jerman

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 1 September 2024 | 03:04 WIB
Muhammad Najib.  (doc. pribadi)
Muhammad Najib. (doc. pribadi)

RADAR MALIOBORO - Pengalaman mahasiswa menjalani studi memang beragam. Salah satu yang menarik adalah yang dialami mahasiswa Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, Sekolah Vokasi, UGM, Muhammad Najib. Sejak lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dia sudah bercita-cita untuk kuliah di luar negeri.

Pada 2023, Najib memutuskan untuk mendaftar program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Saat itu, Najib mengikuti seleksi beasiswa Global Korean Scholarship (GKS) yang diselenggarakan National Institute For International Education (NIIED) Korea Selatan. Namun, dia belum beruntung. Najib harus mundur usai seleksi wawancara dan melanjutkan studinya di Indonesia.

Pada tahun keduanya sebagai mahasiswa di Sekolah Vokasi UGM, Najib memutuskan mengikuti lagi seleksi program IISMA, salah satu beasiswa studi luar negeri yang ditawarkan oleh Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Najib memilih Deggendorf Institute of Technology, Jerman sebagai kampus tujuannya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui program MBKM membentuk program unggulan. Untuk memfasilitasi mahasiswa Indonesia menggapai mimpi berkuliah di luar negeri tanpa halangan biaya.

IISMA merupakan program pertukaran mahasiswa Indonesia di universitas ternama dunia selama satu semester. Universitas sasaran IISMA tersebar di seluruh dunia, termasuk Singapura, Prancis, Australia, dan Amerika Serikat.

Program IISMA mendanai kegiatan pertukaran mahasiswa mulai dari persiapan, transportasi, tempat tinggal, hingga uang saku setiap bulan.
Hingga 2023, jumlah penerima beasiswa IISMA mencapai 6.522 mahasiswa. Baik dari jenjang sarjana maupun diploma.

IISMA menyediakan lima skema, yaitu reguler, afirmasi (mahasiswa pemegang KIP-K dan berasal dari daerah 3T), co-funding, vokasi (IISMAVO), dan entrepreneurship (IISMA-E). Lima skema tersebut dibuat agar seluruh lapisan mahasiswa dapat mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar di luar negeri.

Sebagai mahasiswa Teknologi Rekayasa dan Instrumentasi, Najib tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu komputasi (computer science). Terutama di kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan machine learning.
Najib juga harus beradaptasi dengan sistem akademik di Jerman yang berbeda dengan Indonesia. Di Jerman, penilaian tiap mata kuliah hanya dilakukan di akhir semester. Hal ini dapat menjadi hal yang menguntungkan mengingat kehadiran mahasiswa tidak termasuk dalam aspek penilaian.

Namun, selain urusan akademik, Najib sebagai student representative (SR) IISMA di Jerman harus menjalani berbagai acara di luar kegiatan akademik. Untungnya, ia masih dapat menjalaninya dengan baik.

Pengalaman serupa juga dijalani oleh Rachel Adeline Wiguna, mahasiswa Psikologi UGM angkatan 2021 yang mendapatkan beasiswa IISMA tahun 2023 di University of Adelaide, Australia.

Rachel mengaku bahwa sistem pembelajaran di Australia memiliki perbedaan yang signifikan dengan sistem pembelajaran di Indonesia. Di sana, satu mata kuliah memiliki tiga jenis kelas, yaitu lecture (perkuliahan), workshop (lokakarya), dan tutorial.

Ketiga kelas itu memiliki mekanisme pelaksanaan yang berbeda. Workshop dan tutorial memiliki jumlah mahasiswa yang lebih sedikit daripada kuliah umum, yaitu maksimal 20 orang dalam satu kelas.

Dosen juga mengambil peran yang besar dalam proses pembelajaran setiap mahasiswa. Keterbukaan dosen dengan sesi diskusi personal dan kemudahan untuk mengontak dosen menjadi salah satu keuntungan kuliah di Australia.

Perbedaan kultur akademik juga dirasakan dalam konteks hubungan sosial, utamanya pertemanan antarmahasiswa. Sebagai mahasiswa pertukaran, Najib dan Rachel tentunya ingin memanfaatkan kesempatan untuk memperluas jejaring (networking) dengan mahasiswa di kampus setempat. Cara bersosialisasi di Indonesia tidak dapat serta merta diterapkan ketika berinteraksi dengan mahasiswa di luar negeri.

Budaya basa-basi atau beating the bush dengan orang asing nyatanya kurang cocok dilakukan di Australia. Rachel mengakui bahwa kebiasaan ngobrol sepulang kuliah bukan merupakan hal yang lumrah dilakukan di Adelaide. Di sana, para mahasiswa langsung kembali ke asrama atau pergi ke tempat tujuan selanjutnya tanpa sempat mengobrol dengan sesama teman.

Bagi Rachel, menambah teman mahasiswa lokal membutuhkan usaha lebih. Namun, ia tidak lantas mengartikan itu sebagai mahasiswa pertukaran tidak bisa bergaul dengan mahasiswa lokal.

Pengalaman berbeda dirasakan oleh Najib semasa menjalani studi di Jerman. Najib memanfaatkan waktunya untuk bergabung di perhimpunan mahasiswa internasional yang dijuluki dengan Erasmus Student Network (ESN) Deggendorf. Melalui organisasi tersebut, ia mendapatkan kolega sesama mahasiswa internasional dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan di sana. Najib juga mengikuti program Host Family dan mendapatkan orang tua angkat selama berkuliah di Jerman.

Bagi Najib, Jerman terlalu berkesan sehingga membuatnya ingin kembali ke sana untuk menempuh studi magister (S-2). Sebagai mahasiswa yang terdaftar di program beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K), mengikuti IISMA menjadi salah satu pengalaman yang mengubah hidupnya.

Pengalaman internasional yang didapatkan Rachel lewat IISMA juga mengantarnya untuk bertukar pikiran dengan mahasiswa internasional lain. Salah satu manfaat yang dia rasakan adalah cultural exchange. Melalui IISMA, Rachel berdiskusi dengan mahasiswa lain tentang masalah sosial yang terjadi di masing-masing negara dan mencari potensi jalan keluar lewat diskusi-diskusi di ruang kelas.

Perbedaan dinamika antara dosen dan mahasiswa juga menjadi pengalaman paling berkesan Rachel selama berkuliah di University of Adelaide. Di sana, dosen sangat menghargai usaha mahasiswa dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Berbeda dari pengalamannya di UGM, Rachel mendapatkan umpan balik dari dosen sehingga ia dapat mengetahui sejauh mana kemampuan, kekurangan, serta hal yang dapat diperbaiki di penugasan selanjutnya.

(Tiefany Ruwaida Nasukha)
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM
UKM: BPPM Balairung UGM
Divisi: Redaksi

Editor : Iwa Ikhwanudin
#mahasiswa #ugm #sekolah vokasi #kuliah di jerman