RADAR MALIOBORO - Sering merasa ganjil akan argumen yang terasa masuk akal namun sebenarnya tidak valid?
Kemungkinan anda terjebak dalam kesalahan penalaran tersebut.
Dalam Bahasa ilmiah, kondisi demikian disebut logical fallacy.
Logical fallacy atau kesalahan bernalar adalah suatu pendapat atau pernyataan yang mengandung unsur tipuan namun masih menggunakan elemen penalaran seolah hal tersebut cukup meyakinkan.
Padahal, setelah ditelusuri lebih lanjut, hal tersebut tidaklah valid.
Logical fallacy diambil dari kata latin fallacia yang artinya “menipu”.
Itu artinya penalaran pada tiap agumennya tetaplah tidak valid serta tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah atau bukti konkrit.
Meskipun pada dasarnya logical fallacy adalah tipuan bernalar, namun kita masih dapat menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari seperti perdebatan, adu mulut, diskusi dan lain sebagainya.
Mengutip dari laman UNESA yang diakses pada Minggu, (24/11/2024) tentang jenis–jenis kesalahan berpikir dan bernalar (logical fallacy) berdasarkan filsafat, ada setidaknya 8 jenis yang dapat kita ketahui.
1. bentuk serangan terhadap pribadi (Ad Hominem)
Seperti namanya, kesalahan ini terjadi saat satu pihak menyerang personal atau pribadi pihak lain alih – alih isi argumennya yang dilontarkan.
2. strawman argumen (secara makna : manusia jerami)
Kondisi ini terjadi ketika seseorang menyederhanakan argumen lawan agar mudah dipatahkan.
Atau simpelnya mencari celah dari satu argumen lantas menggunakan kekurangan yang ada untuk menyerang.
Padahal, secara isi argumen tersebut hanya menjelaskan aspek tertentu yang valid berdasarkan isu yang dibahas.
3. False dilemma atau dikotomi palsu
Ini berkaitan dengan paksaan pihak lawan melalui penawaran antara dua pilihan yang ekstrim seakan–akan tidak ada pilihan lain.
4. Slippery slope atau lereng licin
Kondisi ini bermula ketika seseorang berpendapat bahwa tindakan kecil dapat memicu serangkaian kejadian yang tidak diinginkan tanpa bukti yang cukup.
Seringkali argumen ini melewati proses kelogisan dan langsung menyimpulkan berdasarkan argumen semata.
5. Circular reasoning atau penalaran berputar
Kondisi ini terjadi ketika premis dan kesimpulan saling mendukung tanpa adanya bukti tambahan.
Antara sebab–akibat, dan akibat- sebab yang saling berputar dan cukup meyakinkan, disitulah kita terjebak pada kondisi melingkar.
6. Hasty generalization atau generalisasi terburu–buru
Jenis ini ada ketika membuat kesimpulan umum berdasarkan sampel yang terlalu sedikit.
Biasanya hal ini menyangkut aspek yang bersifat subjektif, serta didasarkan pada pengalaman atau objek yang sedikit, tanpa penelitian atau bukti–bukti yang valid dan mencakup keseluruhan aspek.
7. Kesalahan sebab-akibat (Post hoc ergo propter hoc)
Jenis ini mengasumsikan bahwa suatu peristiwa terjadi karena peristiwa lain yang mana sebenarnya tidak dapat dibuktikan secara konkrit kebenarannya.
8. Appeal to authority atau istilah lain disebut bandwagon effect
Kesalahan ini menggunakan pendapat dari otoritas tertentu (biasanya yang lebih tinggi) sebagai kebenaran mutlak, tanpa mempertimbangkan relevansi atau kebenarannya.
Kewenangan atau kekuasaan orang tidak serta menunjukkan bukti ilmiah yang absolut.
Maka dari itu, perlu penilaian berdasarkan bukti, logika dan kesepakatan bersama, bukan terbatas pada siapa yang mengatakannya.
Itulah beberapa hal seputar logical fallacy beserta jenis – jenisnya.
Karena berkaitan dengan kemampuan bernalar, tentunya akan mudah kita jumpai di kehidupan sehari-hari.
Untuk itulah kita perlu tahu tentang logical fallacy ini. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva