RADAR MALIOBORO - Pernahkah kamu merasa bahwa mengenal seseorang itu seperti sebuah perjalanan yang tidak instan?
Awalnya kamu hanya tahu nama dan hal-hal umum, lalu perlahan kamu mulai mengetahui hal-hal pribadi yang hanya diceritakan kepada orang tertentu.
Konsep ini dalam komunikasi dikenal dengan istilah “lapisan bawang”, yang menggambarkan bagaimana kita membangun kedekatan emosional dengan seseorang secara bertahap, seperti sedang mengupas satu per satu lapisan bawang.
Konsep ini berasal dari teori komunikasi interpersonal yang disebut Social Penetration Theory, dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor pada tahun 1973.
Mereka membayangkan kepribadian manusia seperti sebuah bawang besar, tersusun dari berbagai lapisan, dari yang paling luar hingga ke bagian paling inti.
Lapisan luar mewakili informasi yang bersifat umum dan mudah dibagikan kepada siapa pun, sementara lapisan terdalam menyimpan hal-hal yang paling pribadi dan jarang sekali diungkapkan, kecuali kepada orang yang sangat dipercaya.
Ketika dua orang mulai saling berkomunikasi, mereka biasanya hanya membicarakan hal-hal ringan seperti cuaca, makanan favorit, atau aktivitas sehari-hari.
Ini adalah lapisan luar dari “bawang”, di mana percakapan belum terlalu dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu dan kepercayaan yang mulai tumbuh, pembicaraan pun mulai bergeser ke topik yang lebih pribadi.
Mungkin seseorang mulai bercerita tentang keluarganya, pandangannya terhadap kehidupan, atau pengalamannya yang membentuk cara berpikirnya.
Di sinilah kita masuk ke lapisan-lapisan yang lebih dalam.
Baca Juga: Tak Pakai Kurir, Ijazah Asli Jokowi Diantar Langsung oleh Adik Ipar ke Bareskrim
Namun, tidak semua orang bisa langsung masuk ke lapisan inti.
Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan yang paling penting: rasa aman. Dalam komunikasi, seseorang hanya akan membuka dirinya lebih dalam jika ia merasa dihargai dan tidak dihakimi.
Hubungan pertemanan yang kuat, ikatan cinta, atau kepercayaan dalam keluarga terbentuk dari proses membuka diri ini, dari lapisan luar hingga lapisan yang paling dalam dan penuh kerentanan.
Kamu mungkin pernah merasakan ini dalam kehidupan nyata, seseorang yang awalnya hanya rekan kerja, lalu perlahan menjadi sahabat dekat setelah melewati banyak percakapan bermakna.
Atau, mungkin kamu sendiri pernah memilih untuk tidak membagikan sesuatu yang sangat pribadi kepada orang lain karena merasa belum siap atau belum cukup percaya.
Inilah bentuk nyata dari proses komunikasi seperti lapisan bawang.
Konsep ini juga memberi pelajaran penting dalam bersosialisasi.
Bahwa tidak semua hal harus langsung dibagikan.
Kita perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki “lapisan” yang hanya bisa dibuka oleh orang-orang tertentu.
Memahami ini membuat kita menjadi pribadi yang lebih empatik, tidak memaksa, dan tahu bagaimana menghargai batas orang lain. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva