SLEMAN – Di tengah tantangan isu perubahan iklim dan pengelolaan sampah, SMAN 1 Tempel mengambil langkah progresif dengan mengubah lingkungan sekolahnya menjadi sebuah laboratorium hidup.
Melalui program “Greenzyme Garden”, sebuah inisiatif kolaborasi dengan tim dosen pengabdian dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sekolah berstatus Adiwiyata ini berhasil mengubah sampah organik menjadi sarana edukasi yang memberdayakan seluruh warga sekolah.
Program ini lahir dari kepekaan terhadap dua masalah nyata di lingkungan sekolah.
Pertama, volume sampah organik yang mencapai 5 hingga 8 kilogram setiap hari dari sisa makanan kantin dan limbah taman.
Jika dibiarkan, sampah ini dapat mencemari lingkungan dan menghasilkan gas metana. Kedua, adanya kebutuhan untuk menjadikan pendidikan lingkungan lebih praktis dan relevan, agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa menerapkan solusi berkelanjutan.
Kunci keberhasilan program ini terletak pada fondasi kolaborasi yang kuat. Sejak awal, tim dosen UNY menggandeng langsung komunitas guru “PESONA” (Pendidik Sekolah Nol Sampah), pimpinan sekolah, dan perwakilan siswa. Melalui diskusi dan perencanaan bersama, program dirancang agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi unik yang dimiliki SMAN 1 Tempel.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembekalan pengetahuan. Para siswa dan guru diberikan pemahaman komprehensif mengenai dampak sampah organik, prinsip ekonomi sirkular, serta manfaat eco-enzyme.
Edukasi ini menjadi landasan penting untuk membangun kesadaran bersama sebelum melangkah ke aksi nyata.
Puncak dari fase awal ini adalah lokakarya praktik yang digelar pada 17 Juli 2025. Pada hari itu, puluhan siswa yang terbagi dalam delapan kelompok kerja mempraktikkan langsung ilmu yang mereka peroleh.
Dengan antusias, mereka memilah sampah kulit buah dan sisa sayuran, menakarnya sesuai formula, lalu meraciknya menjadi larutan eco-enzyme. Hasilnya, delapan ember berhasil terisi, menghasilkan total 100 liter cairan multiguna.
Tim dosen secara rutin melakukan pendampingan untuk memastikan prosesnya berjalan optimal. Namun, produksi eco-enzyme ini adalah langkah awal untuk mewujudkan visi yang lebih besar: pembangunan greenhouse edukatif yang terintegrasi.
Ketua Tim Pengabdi, Rahmania Pamungkas, M.Pd., menjelaskan filosofi di balik fasilitas yang akan menjadi jantung program ini.
"Greenhouse yang kami bangun ini bertajuk Greenzyme, karena tidak hanya digunakan untuk budidaya tanaman, tetapi juga terintegrasi dengan pengolahan eco-enzyme," ujar Rahmania Pamungkas, M.Pd. "Dengan konsep ini, kami ingin memperkenalkan siklus keberlanjutan yang utuh kepada siswa—mulai dari mengelola limbah organik, menghasilkan eco-enzyme, hingga memanfaatkannya kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi kebiasaan baik di sekolah serta sarana pembelajaran lintas disiplin yang membuat siswa semakin melek edukasi iklim dan peduli terhadap lingkungan," jelas Rahmania Pamungkas.
Lebih dari sekadar kebun biasa, Greenzyme Garden dirancang sebagai sebuah ekosistem cerdas yang memadukan ekologi dengan teknologi. Di dalamnya akan terpasang sistem berbasis
Internet of Things (IoT) yang mencakup sensor suhu dan kelembaban (DHT11), pompa air, serta modul WiFi.
Sistem ini memungkinkan penyiraman tanaman dilakukan secara otomatis menggunakan larutan
eco-enzyme, sekaligus menyediakan data lingkungan kebun yang dapat diakses secara real-time oleh siswa dan guru. Integrasi teknologi ini diharapkan dapat menarik minat siswa pada bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika) sambil belajar ilmu lingkungan secara nyata.
Dengan kemajuan yang telah dicapai, program Greenzyme Garden tidak hanya menciptakan solusi pengelolaan sampah, tetapi juga membangun platform pembelajaran yang dinamis.
Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim.
Diharapkan, program ini dapat menjadi model praktik terbaik yang bisa ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sleman, guna memperluas dampak positifnya dalam skala yang lebih besar.
Editor : Bahana.