SLEMAN - Inovasi teknologi pertanian kembali hadir dari dunia akademik.
Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun memperkenalkan IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps, sistem pemupukan cerdas.
Berbasis data yang dirancang untuk membantu petani salak melakukan pemupukan secara presisi dan efisien.
Kedua inovasi ini dipaparkan dalam acara Diseminasi Hasil Riset Terapan Berdikari di Satoria Hotel, Sleman, Kamis (30/10/2025).
Kegiatan tersebut dihadiri akademisi, pelaku usaha hortikultura, pejabat Kementerian Pertanian, serta perwakilan SMKN 1 Salam, Magelang.
Ketua tim peneliti, Darmawan Lahru Riatma, menjelaskan bahwa sistem IoT Rabuk bekerja menggunakan sensor untuk memantau kondisi tanah secara real-time.
Sensor mencatat kandungan unsur hara N, P, K, kelembapan tanah, pH, hingga anomali iklim.
Selanjutnya, data dikirim ke AI Rabuk Apps untuk dianalisis dan diterjemahkan menjadi rekomendasi dosis pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.
“Dengan teknologi ini, petani tidak lagi menebak kebutuhan pupuk berdasarkan kebiasaan."
"Semua berbasis data aktual lapangan, sehingga pemupukan menjadi lebih tepat, efisien, dan berpotensi meningkatkan hasil,” ujar Darmawan, yang juga menjabat Kepala Prodi D3 Teknik Informatika UNS Madiun.
Baca Juga: “Kami Butuh Makan!”: Jeritan Warga Jamaika yang Terlupakan di Tengah Bencana
Riset yang berjalan selama setahun ini diujicobakan di beberapa kebun salak di Magelang.
Hasil sementara menunjukkan efisiensi penggunaan pupuk mencapai 8–20 persen.
Serta penghematan tenaga kerja setara Rp120 ribu untuk setiap 100 tanaman.
Meski produktivitas buah masih menunggu hasil panen beberapa pekan ke depan, temuan awal ini dianggap menjanjikan sebagai model penerapan smart farming di tingkat petani.
Apresiasi datang dari Direktorat Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian.
Menurut perwakilannya, Dina Rosita, inovasi UNS Madiun menjadi langkah nyata menuju modernisasi pertanian hortikultura.
“Salak memiliki potensi ekspor besar."
"Teknologi seperti IoT Rabuk dan AI Rabuk bisa membantu petani menjaga kualitas dan konsistensi hasil panen agar mampu bersaing di pasar global,” jelas Dina.
Ia juga mendorong agar sistem tersebut dikembangkan untuk komoditas lain seperti mangga dan cabai yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dukungan senada disampaikan oleh Margono, eksportir sekaligus petani salak asal Magelang.
Menurutnya, teknologi pemupukan presisi bisa menjadi solusi atas tantangan di lapangan.
“Selama ini pemupukan sering tidak tepat waktu atau tidak merata."
"Dengan sensor dan AI, kebutuhan tanaman bisa diatur secara akurat. Ini sangat membantu menjaga mutu dan kontinuitas pasokan ekspor,” ujarnya.
Melalui riset terapan Berdikari ini, UNS Kampus Madiun berharap inovasi IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps dapat menjadi tonggak penerapan pertanian cerdas di Indonesia.
Mendorong petani untuk beralih ke sistem budidaya berbasis teknologi dan efisiensi tinggi. (vis/naf/iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin