Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Panic to Magic: Pameran Multisensori yang Mengajak Publik Mengolah Krisis Lingkungan Lewat Seni

Iwa Ikhwanudin • Senin, 24 November 2025 | 18:43 WIB
Pameran multisensori Panic to Magic, 22–24 November 2025. Kolaborasi ISI Surakarta dan Komunitas Seni Jathilan Panggung Perwira, Panggungharjo. Berlangsung di Cabeyan, Panggungharjo, Sewon, Bantul.
Pameran multisensori Panic to Magic, 22–24 November 2025. Kolaborasi ISI Surakarta dan Komunitas Seni Jathilan Panggung Perwira, Panggungharjo. Berlangsung di Cabeyan, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

BANTUL - Krisis lingkungan yang semakin terasa, mulai dari suhu udara yang meningkat, sungai yang berubah warna, hingga penumpukan sampah setelah penutupan TPSA Piyungan, menjadi inspirasi lahirnya pameran multisensori Panic to Magic. Pameran ini mengajak masyarakat melihat ulang persoalan ekologis melalui karya seni, suara warga, dan kreativitas akar rumput.

Pameran yang digelar 22–24 November 2025 ini merupakan hasil kolaborasi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui program Ekologi Visual Nusantara bersama Komunitas Seni Jathilan Panggung Perwira, Dusun Panggungharjo. Berlangsung di di Dusun Cabeyan, Sesa Panggungharjo, Sewon Bantul.

Kegiatan ini terselenggara lewat Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang dirancang DPPM di bawah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendiktisaintek.

Seni sebagai Cermin Krisis Ekologis

Melalui pendekatan foto dokumenter, film pendek, dan karya instalasi dari limbah plastik maupun minyak jelantah, pameran ini memotret langsung keresahan masyarakat terhadap kondisi lingkungan mereka.

Endang Purwasari selaku ketua tim ISI Surakarta, bersama para anggota: Dessy Rachma Waryanti, Varatisha Anjani Abdullah, dan Dwi Putri Nugrahaning Widhi, melakukan pendampingan intensif kepada anak muda dan warga Panggungharjo. Tujuannya, mengolah pengalaman sehari-hari tentang sampah dan perubahan lingkungan menjadi karya visual yang menyentuh.

Dari Panik ke Aksi Kolektif

Komunitas Panggung Perwira selama ini dikenal aktif dalam seni jathilan. Namun melalui program ini, kreativitas mereka berkembang menjadi gerakan lingkungan.

“Masyarakat jadi terpikir untuk membuat pameran arsip warga dan mengembangkan kegiatan kampung yang lebih ramah lingkungan,” ujar Fajar Budiaji, Ketua Panggung Perwira.

Warga juga mulai menginisiasi pengelolaan sampah secara mandiri, memanfaatkan limbah untuk kerajinan, dan membuka ruang kreatif bagi generasi muda. Dari lingkungan kecil di Panggungharjo, muncul harapan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari gebrakan besar, tetapi dari keberanian mengambil langkah pertama.

Baca Juga: Mengenal Ramen: Hidangan Ikonik Jepang yang Populer dan Banyak Digemari

Mengubah Krisis Menjadi Keajaiban

Pameran Panic to Magic bukan hanya menampilkan karya seni, tetapi juga menjadi ruang dialog antara seniman, warga, dan pengunjung. Setiap karya mengajak publik lebih peka terhadap kondisi ekologis Yogyakarta, mulai dari problem sampah hingga hilangnya ruang hijau.

Dengan energi budaya Yogyakarta yang dinamis, pameran ini menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium untuk memaknai krisis sekaligus menciptakan harapan. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Ekologi Visual Nusantara #isi surakarta #bantul #Panic to Magic #pameran multisensori #tpst piyungan