RADAR MALIOBORO - Semakin ke sini, banyak sekali tren laki-laki yang ingin memperbagus bentuk fisiknya, salah satunya adalah dengan rajin nge-gym. Sebenarnya, aktivitas nge-gym itu sangat positif dan bermanfaat, baik dilakukan cowok maupun cewek sekalipun.
Namun, yang menjadi isu adalah banyaknya cowok yang ingin kelihatan macho di depan cewek. Padahal, cara perempuan melihat laki-laki ternyata berbeda jauh dari apa yang selama ini dibayangkan para lelaki.
Dalam sebuah unggahan YouTube Ferry Irwandi dengan judul “Memahami Bagaimana Perempuan Jatuh Cinta dalam Neurosains” dijelaskan bahwa banyak laki-laki gagal memahami alasan perempuan tertarik pada lawan jenisnya dan akhirnya mengambil langkah pendekatan yang justru keliru.
Podcast tersebut menjelaskan bahwa penilaian perempuan terhadap laki-laki tidak bertumpu pada fisik yang bagus, harta yang banyak, ataupun status sosial, melainkan pada rasa aman yang dipancarkan laki-laki melalui kehadiran dan sisi emosional mereka.
CEO Malaka Project tersebut juga menyebutkan bahwa otak perempuan memiliki sistem yang lebih sensitif terhadap emosi. Dua bagian yang berperan penting adalah insula dan anterior cingulate cortex, area yang sangat peka terhadap nada bicara, ekspresi wajah, stabilitas emosi, dan potensi ancaman.
“Perempuan bisa merasakan apakah seorang laki-laki aman, stabil, atau justru agresif hanya dari cara bicara dan vibes yang dipancarkan,” ujar Ferry.
Penjelasan tersebut dapat meluruskan persepsi bahwa anggapan perempuan menilai maskulinitas secara fisik itu tidak sepenuhnya benar. Yang mereka cari bukan sekadar tubuh atletis, suara berat, atau kesan dominan, melainkan atmosfer yang membuat mereka merasa tenang dan nyaman ketika berada di dekat laki-laki.
Selain itu, Ferry juga mengkritisi kebiasaan banyak laki-laki yang terlalu banyak menjelaskan diri sendiri, baik tentang kekayaan, karier, maupun kemampuan. Secara neurosains, hal ini justru terbaca sebagai ketidakpercayaan diri.
“Bukan apa yang kamu ceritakan, tapi apa yang kamu pancarkan,” tegasnya.
Laki-laki justru disarankan untuk melatih cara menatap, mendengar, dan hadir dalam percakapan. Kehadiran yang konsisten dinilai jauh lebih menarik dibanding tampil sempurna secara verbal.
Secara garis besar, pesan Ferry Irwandi adalah ingin mengajak laki-laki untuk memahami bahwa ketertarikan perempuan itu ada pada perilaku kecil yang mereka lakukan secara konsisten, bukan soal kekuatan atau kemampuan yang dipamerkan.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin