Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pakar Rawa UGM Prof Budi Santosa Raih Sutami Awards 2025, Dedikasi Puluhan Tahun untuk Lahan Gambut

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 19 Desember 2025 | 20:16 WIB
Budi Santosa Wignyosukarto dianugerahi penghargaan Sutami Awards 2025 oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Budi Santosa Wignyosukarto dianugerahi penghargaan Sutami Awards 2025 oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

YOGYAKARTA – Dunia akademik Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Pakar Pengelolaan dan Pengembangan Daerah Rawa UGM, Prof Dr Ir Budi Santosa Wignyosukarto Dip HE, dianugerahi penghargaan bergengsi Sutami Awards 2025 oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung dalam Malam Apresiasi Sutami Awards 2025 di Jakarta, awal Desember lalu. Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM ini berhasil menyabet kemenangan pada kategori akademisi atas dedikasinya sebagai Pakar Rawa, khususnya dalam program Revitalisasi Eks Mega Rice.

Jejak Panjang Sejak 1974: Dari Kalimantan hingga Belanda

Keahlian Prof Budi di bidang lahan rawa bukanlah hal instan. Ketertarikannya dimulai sejak tahun 1974 saat masih berstatus mahasiswa, dengan mengikuti survei lapangan Proyek Pengembangan Persawahan Pasang Surut (P4S) di pedalaman Kalimantan.

"Waktu itu saya ikut mengamati gerakan muka air sungai saat pasang surut, menilai kualitas air dan tanah, hingga membuat desain saluran pembuang air hujan," kenang Prof Budi saat diwawancarai di Yogyakarta, Jumat (19/12/2025).

Perjalanan akademiknya berlanjut ke IHE Delft, Belanda, dan INPG Grenoble, Prancis, untuk mendalami pemodelan matematik aliran air. Disertasinya mengenai pencucian tanah dalam jaringan irigasi pasang surut kini menjadi rujukan utama dalam simulasi pengelolaan keasaman (pH) dan salinitas lahan rawa di Indonesia.

Meluruskan Kebijakan Politik dengan Kajian Ilmiah

Sebagai akademisi senior, Prof Budi mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan rawa adalah ketika kebijakan politik tidak sejalan dengan kaidah ilmiah. Ia mencontohkan kegagalan Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar pada tahun 1996 yang sempat menuai banyak kritik.

Menurutnya, kompleksitas lahan rawa yang melibatkan tanah gambut, mineral, hingga intrusi air laut tidak bisa diselesaikan dengan satu sistem makro yang seragam.

"Tantangan paling berat muncul ketika keputusan politik yang melandasi kebijakan pengembangan tidak didasarkan pada pengetahuan dan kajian ilmiah yang memadai," tegasnya.

Inovasi Smart Water Management di Dadahup

Kini, Prof Budi aktif membawa teknologi masa depan ke lahan basah. Sejak 2020, ia terlibat dalam revitalisasi melalui penerapan Smart Water Management di kawasan Dadahup, Kalimantan Tengah.

Melalui Lab Hidraulika UGM, ia memasang perangkat telemetri dengan sensor canggih untuk memantau:

Elevasi muka air.
Tingkat keasaman (pH) air secara real-time.
Salinitas dan curah hujan melalui sistem daring.

Teknologi ini memungkinkan operator pintu air bekerja lebih presisi guna menjaga kualitas air di lahan pertanian rawa seluas 20.000 hektar tersebut.

Harapan untuk Masa Depan Lingkungan

Meskipun telah memasuki masa purna tugas akademik secara struktural, semangatnya tidak surut. Ia berpesan agar para akademisi muda berani menyuarakan kebenaran ilmiah demi meluruskan kebijakan yang menyimpang dari kaidah akademik.

"Untuk mengatasi masalah lingkungan, tentu diperlukan bantuan akademisi untuk menyuarakan perlunya ilmu pengetahuan yang menuntun perbaikan kehidupan di muka bumi ini," ujarnya. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kalimantan tengah #ugm #Pakar Rawa UGM #Smart Water Management System #Sutami Awards 2025 #Teknik Sipil UGM #lahan rawa #Prof Budi Santosa Wignyosukarto #Revitalisasi Eks Mega Rice #kementerian pu