RADAR MALIOBORO - Bahasa Jawa dikenal kaya akan kosakata yang sangat detail dalam menggambarkan kondisi, perasaan, hingga situasi kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Uniknya, beberapa kata dalam bahasa Jawa terasa kena banget maknanya, tetapi justru sulit diterjemahkan secara tepat ke dalam bahasa Indonesia hanya dengan satu kata.
Berikut delapan kata bahasa Jawa yang sering dipakai sehari-hari, namun maknanya lebih luas dari sekadar terjemahan harfiah.
1. Kecelik
Kecelik menggambarkan situasi ketika seseorang datang ke suatu tempat, tetapi justru pulang dengan tangan kosong atau tidak sesuai ekspektasi. Misalnya, datang ke rumah teman tanpa janji, ternyata orangnya tidak ada.
2. Kewer-kewer
Kata ini menggambarkan cara membawa sesuatu biasanya kain atau pakaian yang ujungnya melambai-lambai dibawah.
3. Siwilen
Siwilen merujuk pada kulit tipis di tepi kuku yang terkelupas sedikit namun belum lepas. Kalau ditarik, rasanya perih.
4. Mobat-mabit
Istilah ini dipakai untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sangat sibuk, serba tergesa, kelelahan, atau aktivitas yang datang bertubi-tubi tanpa jeda.
5. Suduken
Suduken menggambarkan rasa tidak nyaman di perut atau dada yang biasanya muncul setelah makan atau minum, lalu langsung melakukan aktivitas berat.
6. Seliliten
Seliliten adalah istilah untuk menggambarkan kondisi ketika ada sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi, biasanya sisa serat-serat daging.
7. Plonga-plongo
Plonga-plongo menggambarkan ekspresi orang yang bengong, kosong, dan seperti tidak nyambung dengan keadaan sekitar. Lebih aktif dari sekadar ‘melongo’ di bahasa Indonesia.
8. Ngalor-Ngidul
Sebenarnya dalam bahasa Jawa, ‘ngalor’ artinya ke utara. ‘ngidul’ artinya ke selatan. Istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan percakapan melebar ke mana-mana dan bisa juga buat pergi jalan-jalan tanpa tahu tujuan yang jelas.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin