RADAR MALIOBORO - Sudah menjadi masalah umum bagi Gen Z yang baru gajian, tapi uangnya cepat habis entah ke mana. Kondisi ini biasanya menandakan bahwa pengeluaran belum punya arah yang jelas. Di sinilah konsep money dial relevan untuk dipelajari dan dipraktikkan.
Money dial adalah istilah dari pakar keuangan asal California, Ramit Sethi, untuk menggambarkan satu atau dua kategori pengeluaran yang paling membuat seseorang merasa bahagia. Disebut “dial” karena besar-kecilnya pengeluaran bisa diatur. Saat kondisi keuangan terbatas, porsinya bisa diperkecil. Sebaliknya, ketika kondisi keuangan sedang baik, porsinya bisa diperbesar sesuai kemampuan.
Setiap orang memiliki money dial yang berbeda. Ada yang merasa puas jika bisa makan enak, ada yang bahagia lewat traveling, dan ada juga yang memprioritaskan kenyamanan, pendidikan, atau kesehatan.
Konsep ini penting bagi Gen Z karena tanpa money dial, seseorang mudah terjebak dalam dua ekstrem: terlalu menahan diri hingga lelah, atau terlalu impulsif dalam berbelanja. Money dial membantu menikmati uang tanpa rasa bersalah, sekaligus tetap menjaga kontrol keuangan.
Cara menentukan money dial sebenarnya cukup sederhana. Tanyakan pada diri sendiri, “Kalau punya uang lebih, aku paling ingin menghabiskannya untuk apa?” Setelah menemukan jawabannya, buatlah perencanaan dana dan alokasikan sejumlah uang khusus untuk kebutuhan tersebut, tanpa mengganggu pos pengeluaran lain.
Jangan lupa untuk melakukan evaluasi secara berkala, karena money dial bisa berubah seiring fase kehidupan. Misalnya, sebelumnya money dial adalah traveling, tetapi setelah menikah bisa bergeser menjadi pendidikan anak.
Money dial membantu memahami apa yang benar-benar penting dalam hidup. Dengan mengenalinya, Gen Z bisa menikmati hasil kerja keras secara lebih bijak, tanpa mengabaikan tabungan dan rencana jangka panjang.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin