Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kok Bisa Kata Baru Resmi Masuk KBBI? Ini Penjelasan Singkatnya

Magang Radar Malioboro • Rabu, 14 Januari 2026 | 13:55 WIB
Tampilan website resmi KBBI yang dapat diakses secara mudah melalui smartphone (kbbi.web.id)
Tampilan website resmi KBBI yang dapat diakses secara mudah melalui smartphone (kbbi.web.id)

RADAR MALIOBORO - Belakangan ini, warganet ramai membahas kata-kata baru yang tiba-tiba diresmikan masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Mulai dari kapitil sebagai lawan kata kapital, hingga palum sebagai lawan kata haus. Banyak yang bertanya-tanya, kok bisa kata-kata itu diakui secara resmi di KBBI?

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebuah kata baru tidak bisa langsung masuk ke KBBI. Kata tersebut harus memiliki makna yang belum ada sebelumnya, mudah diucapkan sesuai kaidah bahasa Indonesia, tidak berkonotasi negatif, serta digunakan secara luas dan konsisten oleh masyarakat.

Artinya, kata yang masuk KBBI bukan karena lucu atau ramai dibahas, tetapi karena dibutuhkan secara linguistik untuk mengisi kekosongan makna dalam bahasa Indonesia.

Menariknya, banyak kata baru justru berasal dari bahasa daerah. Contohnya palum, yang diambil dari bahasa Batak Pakpak untuk menyebut kondisi rasa haus yang sudah hilang. Selama ini, bahasa Indonesia hanya punya pasangan lapar–kenyang, tapi tidak punya padanan jelas untuk haus. Di sinilah KBBI melihat adanya kebutuhan nyata.

Hal serupa juga terjadi pada kata kapitil, yang kini menjadi istilah baku untuk huruf kecil. Sebelumnya, masyarakat hanya menggunakan frasa “huruf kecil” tanpa istilah tunggal yang tepat

Sejak pertama kali terbit pada 1988, KBBI tidak pernah berhenti diperbarui. Kini, lewat versi daring, masyarakat bahkan bisa mengusulkan kata baru. Namun, usulan tersebut tetap dikurasi ketat oleh ahli bahasa, berbasis korpus, data penggunaan, dan pertimbangan makna. Setiap tahun, ratusan hingga ribuan entri baru ditambahkan atau direvisi. Ini menandakan bahwa bahasa Indonesia terus menyesuaikan zaman.

Masuknya kata-kata baru ke KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia berkembang mengikuti cara manusia berpikir dan berkomunikasi. Selama sebuah kata dipakai luas, bermakna jelas, dan relevan, peluangnya untuk diresmikan selalu ada, asal melewati proses yang benar.

(Affrendi Kurniawan)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kata baru #kok bisa #masuk #kbbi