RADAR MALIOBORO - Fenomena Gen Z dan milenial yang terlilit utang kini menjadi perhatian global.
Banyak anggapan miring yang menyebut bahwa anak muda berutang hanya demi gaya hidup atau gengsi, namun realitanya jauh lebih kompleks dan berakar pada masalah ekonomi sistemik.
Berdasarkan data dari landing Tree, peningkatan utang pada Gen Z mencapai 179,1% sepanjang tahun 2021 hingga 2023, angka yang jauh melampaui generasi milenial yang berada di angka 88,2%.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai faktor-faktor utama yang menyebabkan tingginya beban utang pada generasi muda saat ini:
1. Ketimpangan Ekonomi: Inflasi vs Gaji Stagnan
Penyebab utama banyak anak muda terjebak utang bukanlah gaya hidup mewah, melainkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Harga kebutuhan hidup terus meningkat akibat inflasi, sementara upah yang diterima cenderung stagnan atau tidak mengalami kenaikan yang sebanding.
Banyak anak muda yang baru meniti karier menerima upah rendah yang sulit untuk sekadar menyambung hidup.
Data menunjukkan lebih dari sepertiga dewasa muda mengalami masalah ketidakamanan pangan, sehingga mereka harus berutang atau meminta bantuan orang tua untuk makan sehari-hari.
2. Beban Utang Pendidikan yang Masif
Biaya pendidikan tinggi yang semakin mahal memaksa banyak mahasiswa mengambil pinjaman dana pendidikan (student loans).
Di Amerika Serikat, total utang mahasiswa mencapai 1,6 triliun USD pada tahun 2024.
Banyak lulusan yang masih kesulitan melunasi utang ini bahkan setelah bertahun-tahun bekerja karena gaji awal yang tidak mencukupi, sehingga terjebak dalam pola gali lubang tutup lubang.
3. Ancaman Judi Online di Indonesia
Khusus di Indonesia, judi online (judol) menjadi faktor perusak yang sangat signifikan. Indonesia tercatat sebagai negara dengan pemain judi slot terbesar di dunia.
Dari sekitar 4 juta pemain judi online di Indonesia, lebih dari seperempatnya berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun (Gen Z).
Dampaknya sangat fatal, mulai dari memicu tindakan kriminal, meningkatkan angka perceraian hingga 25% di tahun 2023, hingga risiko depresi dan percobaan bunuh diri akibat tekanan psikologis.
4. Fenomena Doom Spending dan Tekanan Psikologis
Istilah Doom Spending merujuk pada perilaku berbelanja tanpa pikir panjang sebagai respons terhadap stres atau kecemasan akibat kondisi ekonomi yang sulit.
Banyak Gen Z dan milenial merasa pesimis tidak akan pernah bisa membeli aset besar seperti rumah, sehingga mereka memilih menghabiskan uang untuk kesenangan instan seperti konser, perjalanan, atau barang hobi sebagai bentuk self-reward atau balas dendam karena merasa selama ini hanya bekerja untuk membayar utang.
Menariknya, porsi utang untuk foya-foya pada generasi yang lebih tua sebenarnya seringkali lebih besar dibandingkan anak muda, karena kelompok tua biasanya sudah memiliki kondisi keuangan yang lebih stabil.
5. Kemudahan Akses Pinjaman Digital
Zaman sekarang, fitur-fitur keuangan memudahkan siapa saja untuk berutang dengan cepat. Sebanyak 35% anak muda usia 18-24 tahun di Amerika tercatat pernah berutang dalam enam bulan terakhir karena kemudahan akses ini.
Masalah muncul ketika mereka gagal bayar, yang kemudian merusak skor kredit di bank dan menyulitkan mereka saat benar-benar membutuhkan pinjaman mendesak di masa depan.
Masalah utang anak muda adalah cerminan dari tantangan zaman yang berat, mulai dari biaya hidup yang tinggi hingga jeratan candu digital seperti judi online.
Meningkatkan literasi keuangan dan menjauhi praktik judi menjadi langkah krusial agar generasi muda dapat keluar dari lingkaran setan utang ini. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin