RADAR MALIOBORO - Mayoritas Gen Z saat ini sudah dihadapkan dengan dunia pekerjaan. Sedangkan, masuk ke dunia kerja hari ini tidak lagi cukup hanya bermodal ijazah atau nilai akademik. Persaingan semakin padat dengan adanya teknologi yang membuat semua orang punya akses yang sama ke informasi, skill, dan peluang. Di titik inilah personal branding jadi faktor pembeda.
Dulu, akses pendidikan dan informasi terbatas. Sekarang, siapa pun bisa belajar skill baru dari internet, ikut kursus online, bahkan membangun portofolio dari rumah. Akibatnya, kandidat kerja dengan kemampuan yang mirip jadi semakin banyak.
Personal branding berperan untuk menjawab satu pertanyaan penting:
“Kenapa harus kamu, bukan yang lain?”
Kesalahan umum adalah menganggap personal branding sebagai pamer. Personal branding bukan soal pencitraan palsu, tetapi tentang bagaimana seseorang dikenal dan diingat, apakah sebagai problem solver, kreatif, komunikatif, atau ahli di bidang tertentu.
Media sosial kini berfungsi seperti etalase publik. Rekruter bisa melihat jejak digitalmu sebelum bertemu langsung. Media sosial yang paling umum digunakan untuk personal branding adalah Linkedin, Instagram, Tiktok, hingga Youtube.
Membangun personal branding bukan berarti harus jadi influencer. Para pelajar, mahasiswa, fresh graduate, hingga pekerja serabutan pun wajib memiliki personal branding, baik lewat karya, cara berkomunikasi, maupun rekam jejak digital.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin