RADAR MALIOBORO - Kesalahan penulisan “di” masih menjadi persoalan yang sering dijumpai di berbagai platform media komunikasi. Baik dalam obrolan daring, postingan media sosial, maupun artikel web, banyak orang yang masih keliru dalam menentukan apakah kata “di” harus disambung atau dipisahkan dengan kata selanjutnya.
Kesalahan seperti ini bukan sekadar soal ketidaktahuan, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang. Padahal, cara penulisan “di” yang tepat sangat penting karena dapat mengubah makna kalimat secara keseluruhan.
Dua Fungsi Kata “di” yang harus dipahami
Menurut aturan tata bahasa indonesia, kata “di” memiliki dua fungsi berbeda, masing-masing menentukan cara penulisanya.
Fungsi pertama adalah sebagai kata depan atau preposisi yang menunjukkan lokasi. Dalam hal ini, penulisannya harus terpisah dari kata yang mengikutinya. Beberapa contohnya antara lain: di rumah, di kantor, di pasar, di sini, di sana, dan di antara.
Fungsi kedua adalah sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Ketika berfungsi demikian, penulisannya harus menyatu dengan kata kerja yang mengikutinya karena membentuk satu kata utuh. Contohnya seperti: diketahui, dipakai, dilakukan, dipahami, dan dikirim.
Kesalahan Umum yang Sering Terjadi
Bentuk kesalahan yang paling lazim ditemukan adalah penulisan yang berkebalikan dari seharusnya. Misalnya, menulis “di makan” atau “disana”, padahal yang benar adalah “dimakan” dan “di sana”.
Meski terlihat sepele, kesalahan ini bisa mengurangi kredibilitas tulisan dan mengganggu pemahaman pembaca terhadap pesan yang ingin disampaikan.
Agar tidak keliru lagi, ada beberapa cara praktis yang bisa langsung diterapkan saat menulis:
- Pertama, uji dengan kata “sedang” atau “sudah”. Jika kata setelah “di” bisa disisipkan dengan kata “sedang” atau “sudah”, maka penulisannya harus disambung. Contoh: “dimakan” bisa menjadi “sudah dimakan”, maka penulisannya serangkai. Sebaliknya, “di meja” tidak bisa menjadi “sudah di meja”, maka harus dipisah.
- Kedua, kenali jenis kata yang mengikutinya. Kata “di” yang diikuti oleh kata benda umumnya ditulis terpisah, seperti “di toko” atau “di jalanan”. Sementara jika diikuti kata kerja, biasanya ditulis serangkai seperti “diberikan” atau “diketik”.
- Ketiga, ingat fungsi dasarnya. Jika bermakna tempat atau posisi, pisahkan. Jika membentuk kata kerja pasif, gabungkan.
Membiasakan penulisan yang tepat bukan hanya soal mengikuti aturan bahasa, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap kualitas komunikasi. Tulisan yang disusun dengan cermat akan lebih mudah dipahami dan menunjukkan profesionalisme penulis. Dengan menguasai hal-hal mendasar seperti penulisan kata “di”, kita turut menjaga martabat bahasa Indonesia di ruang publik.
(Tiya Ermiyati )