RADAR MALIOBORO - Gas whipped cream yang mengandung nitrous oxide belakangan menjadi perbincangan publik setelah dilaporkan disalahgunakan di luar fungsi kuliner.
Gas ini umum digunakan dalam industri makanan dan minuman untuk menghasilkan tekstur krim yang mengembang.
Perbincangan tersebut mencuat dalam beberapa waktu terakhir seiring meningkatnya perhatian terhadap risiko kesehatan akibat penggunaan yang tidak sesuai.
Sejumlah pihak menyoroti bahwa penyalahgunaan gas whipped cream dilakukan dengan cara dihirup langsung, sehingga memicu kekhawatiran akan dampaknya bagi tubuh.
Gas whipped cream belakangan menjadi perhatian publik seiring meningkatnya pembahasan mengenai penggunaannya di luar keperluan kuliner.
Gas yang umum digunakan dalam pembuatan krim kocok ini diketahui mengandung nitrous oxide (N₂O), senyawa yang memiliki fungsi khusus dalam industri makanan dan minuman.
Melansir pada Halodoc, nitrous oxide dalam dunia kuliner digunakan untuk membantu proses pengembangan krim sehingga menghasilkan tekstur yang lebih ringan dan stabil.
Dalam penggunaannya sebagai bahan pendukung makanan, gas ini ditempatkan dalam tabung bertekanan dan tidak dikonsumsi atau dihirup secara langsung oleh manusia.
Namun, nitrous oxide dapat menimbulkan dampak kesehatan apabila digunakan tidak sesuai peruntukannya.
Instalasi langsung gas ini disebut dapat menyebabkan pusing, mual, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan.
Pada penggunaan berulang, nitrous oxide juga berpotensi mengganggu sistem saraf karena memengaruhi penyerapan vitamin B12 dalam tubuh.
Melansir pada Antara, sejumlah tenaga kesehatan mengingatkan bahwa penyalahgunaan gas nitrous oxide dapat meningkatkan risiko kekurangan oksigen dalam tubuh.
Kondisi tersebut dapat memicu hilang kesadaran secara tiba-tiba, terutama jika gas dihirup dalam jumlah besar atau di ruang tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik.
Zat bertekanan seperti nitrous oxide seharusnya digunakan sesuai dengan standar keamanan dan fungsi yang telah ditetapkan.
Penggunaan bahan tersebut di luar konteks medis dan pangan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang tidak ringan, terutama bagi remaja dan kelompok usia muda. (Salwa Caesy)
Editor : Meitika Candra Lantiva