Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pulihkan Trauma Keluarga Lewat Terapi Family Constellation

Magang Radar Malioboro • Senin, 26 Januari 2026 | 15:22 WIB
“Ilustrasi terapi family constellation yang menggambarkan anggota keluarga saling terhubung, berdampingan, dan berproses bersama untuk memulihkan luka batin serta memutus rantai trauma antargenerasi.”
“Ilustrasi terapi family constellation yang menggambarkan anggota keluarga saling terhubung, berdampingan, dan berproses bersama untuk memulihkan luka batin serta memutus rantai trauma antargenerasi.”

RADAR MALIOBORO— Trauma tidak selalu berhenti pada satu generasi. Luka batin yang tidak terselesaikan dalam keluarga dapat diwariskan secara emosional kepada anak hingga cucu, memengaruhi relasi, kesehatan mental, bahkan kualitas hidup. Fenomena ini dikenal sebagai intergenerational trauma dan kini semakin banyak dibahas melalui pendekatan terapi family constellation.

Trauma merupakan respons psikologis akibat peristiwa menyakitkan atau mengancam, baik secara fisik maupun mental. Menariknya, seseorang bisa merasakan dampak trauma meski tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Pola asuh, relasi emosional, serta cerita keluarga yang terus diulang dapat menjadi media “pewarisan” luka batin dari generasi ke generasi.

Konsep trauma antargenerasi pertama kali diidentifikasi pada keturunan korban Holocaust, lalu berkembang dan relevan dalam berbagai konteks keluarga modern—mulai dari konflik berkepanjangan, kekerasan emosional, perceraian, hingga tekanan ekonomi. Dalam banyak kasus, trauma yang tidak disadari kerap muncul kembali dalam bentuk kecemasan, depresi, kesulitan relasi, atau pola hidup yang berulang.

Salah satu metode yang digunakan untuk memutus rantai ini adalah family constellation, pendekatan terapi asal Jerman yang dikembangkan oleh Bert Hellinger. Metode ini menelusuri dinamika keluarga lintas generasi untuk membantu individu memahami akar emosional dari persoalan hidupnya.

Dalam praktiknya, family constellation berpegang pada lima prinsip utama. Pertama, orang tua memberi dan anak menerima cinta, dengan aliran kasih yang sehat dan satu arah. Kedua, dalam hubungan pasangan, memberi dan menerima perlu seimbang agar relasi tetap harmonis. Ketiga, setiap anggota keluarga memiliki hak untuk diakui keberadaannya, termasuk mereka yang kerap dianggap “aib” atau disingkirkan. Keempat, setiap individu bertanggung jawab atas takdir dan jalan hidupnya sendiri. Kelima, order of love atau urutan cinta, yang menekankan prioritas relasi sesuai urutan kedatangan dalam keluarga

Ketika prinsip-prinsip ini dijalankan, keluarga tidak lagi menjadi sumber luka yang berulang, melainkan ruang pemulihan yang memungkinkan trauma berhenti di satu generasi dan tidak diwariskan ke generasi berikutnya.


(Alena Mutiara)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#family #keluarga #trauma #terapi #Pulihkan