Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Emotional Intelligence Jadi Kunci Bertahan di Dunia Kerja yang Penuh Tekanan

Magang Radar Malioboro • Senin, 26 Januari 2026 | 15:28 WIB
“Ilustrasi dunia kerja, di mana kecerdasan emosional membantu individu menghadapi tekanan dan dinamika profesional.” (Sumber: Pinterest)
“Ilustrasi dunia kerja, di mana kecerdasan emosional membantu individu menghadapi tekanan dan dinamika profesional.” (Sumber: Pinterest)

RADAR MALIOBORO— Dunia kerja kerap digambarkan sebagai ruang yang kompetitif dan penuh tekanan. Target yang menumpuk, tuntutan atasan, hingga lingkungan kerja yang kurang suportif bisa memicu stres dan emosi negatif. Meski begitu, tidak semua orang bisa serta-merta memilih resign, mengingat mencari pekerjaan baru bukan perkara mudah. Di sinilah emotional intelligence (EI) berperan penting.

Selama ini, kecerdasan intelektual atau Intelligent Quotient (IQ) sering dianggap sebagai penentu utama kesuksesan karier. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi justru memiliki pengaruh besar terhadap performa kerja dan keberhasilan jangka panjang. Konsep emotional intelligence pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Peter Salovey dan John Mayer pada 1990, lalu dipopulerkan melalui buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman.

Secara sederhana, emotional intelligence adalah kemampuan seseorang mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Individu dengan EI yang baik mampu tetap tenang saat menghadapi tekanan, peka terhadap perasaan rekan kerja, serta bisa berkomunikasi secara efektif dalam situasi sulit. Hal ini membuat proses kerja menjadi lebih lancar dan relasi profesional terjaga dengan sehat.

Daniel Goleman menyebutkan lima komponen utama kecerdasan emosional, yakni kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Kelima aspek ini saling berkaitan dan berperan penting dalam membentuk sikap profesional di tempat kerja.

Dalam praktiknya, emotional intelligence membantu pekerja mengambil keputusan secara rasional, mengelola konflik tanpa memperkeruh suasana, serta menjaga kesehatan mental agar tidak mudah burnout. Bahkan, riset menunjukkan bahwa keberhasilan karier lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosional dibandingkan kemampuan akademik semata.

Melhat Dunia kerja yang terus berubah dan menuntut adaptasi cepat, membangun emotional intelligence bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan bekal penting. Mengasah kecerdasan emosional sejak dini dapat membantu individu lebih siap menghadapi tekanan, bekerja secara kolaboratif, dan berkembang secara profesional dalam jangka panjang.

(Alena mutiara)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#dunia kerja #jadi #Bertahan #kunci #Emotional Intelligence