Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengajak Anak Belajar Puasa dengan Cara Lembut dan Bertahap

Magang Radar Malioboro • Selasa, 27 Januari 2026 | 12:47 WIB
Ilustrasi mengajak anak berpuasa dengan cara lembut dan bertahap. (Pinterest)
Ilustrasi mengajak anak berpuasa dengan cara lembut dan bertahap. (Pinterest)

RADAR MALIOBORO - Datangnya Ramadan sering membawa perubahan besar di dalam rumah. Waktu makan menjadi tidak biasa, jadwal tidur ikut menyesuaikan, dan anak mulai penasaran dengan sahur serta puasa. Dalam suasana ini, tidak sedikit orang tua berharap anak bisa langsung ikut berpuasa penuh.

Harapan tersebut kerap muncul secara spontan, bahkan sebelum orang tua benar-benar menilai kesiapan anak. Padahal, niat baik yang tidak dibarengi pendekatan tepat justru bisa membuat puasa terasa berat bagi anak.

Jika diperkenalkan dengan cara menekan, puasa berisiko dipahami sebagai kewajiban yang melelahkan, bukan ibadah yang bermakna. Anak mungkin terlihat mampu bertahan, tetapi belum tentu merasa aman atau mengerti alasan di baliknya.

Psikiater dari National Hospital Surabaya, dr. Aimee Nugroho, SpKJ, menegaskan bahwa kesiapan mental anak seharusnya menjadi titik awal dalam mengenalkan puasa.

“Dari sudut pandang kesehatan mental, kesiapan anak lebih penting daripada usia kronologis. Puasa sebaiknya dikenalkan sebagai proses bertahap, bukan kewajiban yang dipaksakan sejak awal,” kata Aimee kepada ANTARA, Sabtu (24/1). (Dikutip dari Antara News)

Menurutnya, pengalaman pertama anak terhadap puasa akan membentuk relasi emosionalnya dengan ibadah tersebut di masa depan.


Puasa sebagai Proses Belajar, Bukan Tolak Ukur Kuat
Psikolog anak dan remaja Mariska Johana H, M.Psi., memandang puasa sebagai bagian dari perjalanan perkembangan anak, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan agama.

“Pemahaman tentang puasa Ramadan pada anak perlu dilihat sebagai proses perkembangan, bukan sekadar pengajaran aturan,” ujar Mariska kepada ANTARA, Sabtu (24/1). (Dikutip dari Antara News)

Ia menjelaskan bahwa puasa mengandung banyak dimensi, mulai dari belajar menunda keinginan, mengelola emosi, hingga mengenal nilai spiritual. Namun, semua aspek tersebut tidak harus diperoleh sekaligus.

Pada anak usia tiga hingga enam tahun, cara berpikir masih sangat konkret dan berbasis pengalaman emosional. Di tahap ini, puasa tidak perlu dikenalkan sebagai kewajiban penuh.

“Puasa lebih dipahami sebagai latihan menunggu dan belajar sabar,” kata Mariska. (Dikutip dari Antara News)

Anak dapat diperkenalkan pada konsep menahan diri secara sederhana, misalnya menunggu waktu berbuka atau memahami bahwa rasa lapar tidak selalu harus langsung dihilangkan. Nilai agama disampaikan dengan bahasa yang menenangkan, bukan menakutkan.


Cerita dan Keterlibatan Sehari-hari
Psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener, M.Psi., menilai pendekatan cerita sangat membantu anak usia dini memahami makna puasa tanpa tekanan.

“Biasanya kalau masih kecil di bawah 6 tahun melalui story telling cerita tentang nabi atau islam akan sangat membantu,” kata Samanta kepada ANTARA, Senin (26/1). (Dikutip dari Antara News)

Selain cerita, keterlibatan dalam rutinitas Ramadan juga berperan penting. Anak bisa diajak ikut sahur atau berbuka, meski belum menjalani puasa penuh.

“Walau anak tertidur, diajak terlibat dalam rutinitas sahur dan buka puasa akan membantu anak terbiasa dengan pola Ramadan,” ujarnya. (Dikutip dari Antara News)

Pendekatan ini, menurut Aimee, membantu anak membangun rasa aman dan kebersamaan. Anak tidak merasa dituntut, tetapi diajak.

“Puasa parsial seperti setengah hari bisa menjadi pilihan. Yang penting, pengalaman anak divalidasi,” kata Aimee. (Dikutip dari Antara News)


Pendekatan Berubah Seiring Usia
Saat memasuki usia sekolah awal, sekitar tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai mampu memahami hubungan sebab-akibat. Di fase ini, puasa dapat dikenalkan sebagai latihan pengendalian diri dan tanggung jawab sederhana.

“Anak sudah bisa memahami bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi dan memperbaiki perilaku,” kata Mariska. (Dikutip dari Antara News)

Nilai puasa bisa dikaitkan dengan tindakan nyata, seperti bersikap sabar, membantu orang lain, atau berbagi. Penjelasan tentang manfaat puasa bagi tubuh dapat diberikan secara ringan, tanpa kesan mengancam.

Pada usia sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, anak mulai mampu merefleksikan pengalaman. Puasa tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi ibadah yang melibatkan niat dan kesadaran diri.

“Di tahap ini, anak bisa diajak berdiskusi tentang puasa sebagai latihan mengelola dorongan fisik, emosi, dan pikiran,” ujar Mariska. (Dikutip dari Antara News)


Peran Komunikasi Orang Tua
Menurut Aimee, respons orang tua terhadap keluhan dan kesulitan anak sangat menentukan kesehatan mental anak selama Ramadan.

“Anak perlu tahu bahwa ia boleh merasa lelah dan tetap diterima,” kata Aimee. (Dikutip dari Antara News)

Mendengar tanpa menghakimi, menggunakan bahasa empatik, dan menekankan proses dibanding hasil membuat anak merasa aman. Anak juga perlu diyakinkan bahwa nilai dirinya tidak diukur dari keberhasilan menjalani puasa penuh.

Mariska menambahkan, orang tua bisa memanfaatkan media visual atau aktivitas bersama untuk membantu anak memahami makna puasa. Setelah itu, diskusi dilakukan secara terbuka, bukan dengan nada menguji.


Soal Hadiah dan Motivasi
Hadiah masih sering digunakan sebagai penyemangat anak mencoba berpuasa. Para ahli menilai cara ini boleh digunakan secara terbatas.

Pada anak usia dini, hadiah konkret masih relevan selama diberikan sebagai apresiasi atas usaha. Namun, bentuk dan nilainya perlu diperhatikan.

“Kalau puasa pertama, sebaiknya jangan langsung memberi hadiah yang terlalu mewah atau bernilai tinggi. Khawatir di tahun berikutnya orang tua kesulitan menaikkan nilainya,” ujar Samanta. (Dikutip dari Antara News)

Aimee mengingatkan bahwa ketergantungan pada hadiah dapat berdampak jangka panjang.

“Anak bisa belajar bahwa ibadah harus selalu dibayar dengan imbalan eksternal,” kata Aimee. (Dikutip dari Antara News)

Seiring bertambahnya usia, hadiah fisik sebaiknya digantikan dengan apresiasi verbal dan refleksi bersama.


Mengenali Tanda Anak Belum Siap
Aimee juga mengingatkan orang tua untuk peka terhadap sinyal psikologis anak. Perubahan emosi, keluhan fisik tanpa penyebab medis, hingga kecemasan berlebihan patut diperhatikan.

“Ini bukan tanda anak manja. Ini sinyal bahwa beban psikologisnya melebihi kapasitas anak,” ujarnya. (Dikutip dari ANtara News)

Pendekatan yang sehat membuat anak merasa tertantang sekaligus aman. Anak diberi ruang untuk mencoba, gagal, dan belajar kembali. Jika anak terlihat patuh tetapi tegang, pendekatan orang tua perlu ditinjau ulang.

Dengan pendampingan yang tepat, puasa Ramadan dapat menjadi pengalaman belajar yang menenangkan. Anak menjalani Ramadan dengan rasa aman, sambil perlahan memahami makna ibadah puasa secara utuh.
(Aribah Zalfa Nur Aini)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#lembut #belajar #puasa #dan #cara #mengajak #bertahap #dengan #anak