RADAR MALIOBORO— Dalam dunia kerja profesional, sosok pemimpin memegang peran penting dalam menentukan arah, suasana, dan kinerja tim. Namun, tidak sedikit karyawan merasa dipimpin oleh figur yang sulit diajak berdiskusi, enggan mendengar masukan, atau merasa paling benar. Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa kemampuan menjadi pendengar yang baik (good listener) justru merupakan salah satu kunci utama kepemimpinan yang efektif.
Sejumlah pakar kepemimpinan menilai, pemimpin yang terlalu dominan berbicara berisiko kehilangan pemahaman terhadap kebutuhan timnya. Candido Botelho Bracher, mantan CEO Itaú Unibanco bank terbesar di Brasil pernah menyebut bahwa nasihat kepemimpinan terbaik yang ia terima adalah mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Prinsip ini dinilai relevan di tengah dinamika kerja modern yang menuntut kolaborasi dan empati.
Temuan Harvard Business Review juga mengungkap bahwa pemimpin dengan kemampuan mendengarkan yang kuat cenderung dianggap lebih kredibel, berpengaruh, dan dipercaya oleh timnya. Sementara itu, International Listening Association mencatat bahwa buruknya keterampilan mendengarkan menjadi penyebab lebih dari separuh kesalahpahaman di tempat kerja.
Contoh nyata dapat dilihat dari Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, yang membangun budaya “transparansi radikal” dengan mendorong karyawan menyampaikan ide secara terbuka. Pendekatan serupa juga diterapkan Alan Mulally saat menyelamatkan Ford Motor Company dari krisis pada 2006, dengan menciptakan ruang aman bagi karyawan untuk berbicara dan didengar.
Sebaliknya, pemimpin dengan sikap know-it-all atau merasa selalu benar kerap memicu demotivasi tim. Ide-ide anggota sering diabaikan, komunikasi tersumbat, dan kepercayaan perlahan menghilang. Padahal, pemimpin sejatinya tidak bisa berdiri sendiri tanpa tim yang mendukungnya .
Di era kerja digital yang serba cepat, kemampuan mendengarkan menjadi semakin penting. Pemimpin yang mampu hadir sepenuhnya, menunda penilaian, menunjukkan empati, dan membaca isyarat nonverbal dinilai lebih siap membangun tim yang solid.
Maka menjadi good listener bukan tanda kelemahan, melainkan fondasi kepemimpinan yang matang, manusiawi, dan berkelanjutan.
(Alena Mutiara)
Editor : Iwa Ikhwanudin