RADAR MALIOBORO - Banyak orang merasa hidupnya baik-baik saja, sampai tanpa sadar mulai membandingkan diri dengan lingkungan sekitar. Standar hidup yang awalnya terasa pribadi perlahan bergeser, dibentuk oleh apa yang dianggap “normal” atau “ideal” di lingkup sosial. Dari sinilah tekanan itu mulai muncul, sering kali tanpa disadari.
Lingkungan memang punya pengaruh besar. Percakapan sehari-hari, unggahan di media sosial, hingga pencapaian orang terdekat pelan-pelan membentuk gambaran tentang seperti apa hidup yang dianggap berhasil.
Rumah harus seperti ini, pekerjaan harus begitu, usia segini seharusnya sudah sampai tahap tertentu. Standar itu terus berulang, lalu terasa seperti kewajiban.
Masalahnya, standar yang lahir dari lingkungan belum tentu sejalan dengan kondisi dan kebutuhan diri sendiri.
Setiap orang punya latar belakang, kemampuan, dan ritme hidup yang berbeda. Namun saat standar luar dijadikan patokan utama, rasa cukup menjadi sulit dicapai. Ada perasaan tertinggal, meski sebenarnya tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Tak sedikit orang akhirnya memaksakan diri demi mengejar pengakuan. Bekerja terlalu keras, mengabaikan kesehatan, atau mengambil keputusan besar tanpa kesiapan, hanya agar terlihat “setara” di mata sekitar.
Padahal, pencapaian yang tidak berangkat dari keinginan pribadi sering kali tidak membawa kepuasan jangka panjang.
Menentukan standar hidup dari diri sendiri bukan berarti menolak pengaruh lingkungan sepenuhnya. Lingkungan tetap bisa menjadi sumber inspirasi, bukan tekanan.
Kuncinya ada pada kesadaran: mana yang benar-benar dibutuhkan, dan mana yang hanya ingin dipenuhi demi memenuhi ekspektasi orang lain.
Di era arus perbandingan yang semakin kuat, keberanian untuk hidup sesuai versi diri sendiri menjadi hal yang berharga.
Standar hidup seharusnya membantu seseorang merasa bertumbuh, bukan terus merasa kurang.
(Aribah Zalfa Nur Aini)
Editor : Iwa Ikhwanudin